Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi hutan mangrove (unsplash.com/🌺 Georgia Morales 🌺)
Ilustrasi hutan mangrove (unsplash.com/🌺 Georgia Morales 🌺)

Kukar, IDN Times - Program rehabilitasi dan restorasi mangrove yang digagas Universitas Mulawarman (Unmul) bersama Pertamina, Pertamina Hulu Mahakam, dan Pertamina Foundation di kawasan Delta Mahakam, Kalimantan Timur, tidak hanya memulihkan ekosistem pesisir, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Kunci keberhasilan restorasi adalah ketika masyarakat merasakan manfaat langsung dan menjadi penjaga utama ekosistem,” kata Guru Besar Fakultas Kehutanan Unmul, Prof Irawan Wijaya Kusuma dilaporkan Antara, di Samarinda, Selasa (27/8/2025).

1. Sinergi konservasi lingkungan

Gedung rektorat kampus Unmul (IDN Times/Yuda Almerio)

Ia menegaskan program ini menjadi contoh sinergi konservasi lingkungan yang sekaligus menggerakkan ekonomi lokal. “Delta Mahakam bisa menjadi model komprehensif, di mana pemulihan alam berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup warga,” ujarnya.

Program restorasi Delta Mahakam berlangsung sejak 2022 hingga 2024 dalam tiga fase. Pada 2022, penanaman dilakukan di lahan 52,3 hektare dengan 700 ribu bibit. Tahun berikutnya mencakup 31,5 hektare dengan 589 ribu bibit, dan pada 2024 menargetkan 37,2 hektare dengan 372 ribu bibit.

“Total lebih dari 1,6 juta bibit mangrove ditanam di lahan seluas 121 hektare,” papar Prof Irawan.

2. Keanekaragaman hayati Delta Mahakam

Penanaman bibit mangrove di Dermaga A Untia, Makassar, Minggu (1/6/2025). (Dok. Humas Pemkot Makassar)

Ia menjelaskan, pemulihan ini menjadi harapan baru bagi keanekaragaman hayati Delta Mahakam yang merupakan habitat penting bekantan (Nasalis larvatus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), hingga berbagai jenis burung langka seperti elang ikan kepala kelabu (Ichthyophaga ichthyaetus) dan pecuk ular (Anhinga melanogaster).

“Dengan pulihnya hutan mangrove, rantai makanan dan siklus hidup satwa kembali seimbang,” imbuhnya.

3. Berdayakan warga dengan smart silvofishery

ilustrasi mangrove di pesisir pantai (freepik.com)

Selain fokus pada ekologi, program ini menekankan pemberdayaan masyarakat agar restorasi berjalan berkelanjutan. Warga dilibatkan langsung dalam penanaman, disediakan fasilitas persemaian desa, serta diberi pelatihan budidaya perikanan berbasis smart silvofishery yang ramah lingkungan.

Masyarakat juga mendapat pelatihan mengolah produk turunan mangrove, seperti pemanfaatan nira nipah untuk persiapan produksi etanol bernilai ekonomi tinggi.

“Tidak hanya itu, fasilitas pendukung juga dibangun, seperti instalasi pemanenan air hujan, hidroponik untuk ketahanan pangan, hingga lampu jalan tenaga surya yang ramah lingkungan,” ungkap Prof Irawan.

Editorial Team