Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain.
Seorang ayah sedang menemani putrinya bermain. (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Disiplin pada anak kerap disalahartikan sebagai hukuman atau cara membuat anak patuh lewat rasa takut. Padahal, dalam psikologi perkembangan, disiplin adalah proses mengajarkan anak tentang batasan, tanggung jawab, dan konsekuensi secara sehat.

Bentakan atau hukuman memang bisa membuat anak diam sesaat. Namun, cara ini sering meninggalkan luka emosional jangka panjang. Anak justru belajar takut, bukan memahami.

Para ahli menekankan, disiplin paling efektif dibangun melalui hubungan yang hangat dan penuh empati. Cara orang tua merespons kesalahan anak akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri, bahkan memengaruhi hubungannya dengan otoritas di masa depan.

Berikut enam cara mendisiplinkan anak tanpa bentakan dan hukuman, berdasarkan pendekatan psikologi perkembangan:

1. Bangun koneksi emosional sebelum koreksi

Ilustrasi tips mendidik anak tanpa kehilangan kehangatan pasangan. (pexels.com/Gustavo Fring)

Sebelum menegur anak, pastikan hubungan emosional tetap terjaga. Anak yang merasa aman dan terhubung akan lebih mudah menerima arahan.

Psikiater anak Daniel J. Siegel memperkenalkan prinsip connect before correct. Menurutnya, otak anak perlu merasa aman terlebih dahulu sebelum mampu berpikir logis. Tanpa koneksi, disiplin mudah berubah menjadi konflik.

2. Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten

Ilustrasi Pola Didikan Orang Tua yang Membuat Anak Nakal di Sekolah. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Anak membutuhkan struktur agar merasa aman. Aturan yang jelas dan konsisten membantu anak memahami mana yang boleh dan tidak boleh, tanpa harus diingatkan dengan emosi setiap saat.

Psikolog perkembangan Diana Baumrind menyebut pola asuh demokratis—yang menggabungkan kehangatan dan batasan—sebagai pendekatan paling efektif dalam membentuk disiplin diri.

3. Gunakan konsekuensi logis, bukan hukuman

Ilustrasi Tips Penting untuk Para Orang Tua agar Anak Tidak Merokok. (pexels.com/RDNE Stock project)

Konsekuensi logis membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan dampaknya. Ini berbeda dengan hukuman yang sering kali hanya memicu rasa takut.

Psikolog Alfred Adler menekankan pentingnya konsekuensi yang relevan dan mendidik. Misalnya, jika anak menumpahkan mainan, ia diajak membereskannya kembali, bukan dimarahi tanpa solusi.

4. Validasi emosi anak saat menegur perilaku

ilustrasi anak dan ayah (pexels.com/Sasha Kim)

Menegur perilaku tidak berarti menolak perasaan anak. Orang tua bisa berkata, “Kamu boleh marah, tapi tidak boleh memukul.” Kalimat ini membantu anak memahami batasan tanpa merasa ditolak.

Psikolog John Gottman menyebut pendekatan ini sebagai emotion coaching. Anak yang emosinya divalidasi cenderung lebih mampu mengontrol diri.

5. Jadilah teladan dalam bersikap disiplin

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Werner Pfennig)

Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat. Cara orang tua mengelola emosi dan menyelesaikan masalah akan ditiru dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui teori social learning, Albert Bandura menjelaskan bahwa modeling atau keteladanan adalah proses belajar utama pada anak. Disiplin yang ditunjukkan dengan tenang akan lebih efektif daripada kemarahan.

6. Fokus pada pembelajaran, bukan kepatuhan instan

Ilustrasi Akibat Memanjakan Anak, Memiliki Perilaku Negatif di Sekolah. (pexels.com/August de Richelieu)

Tujuan disiplin bukan sekadar membuat anak patuh saat itu juga, melainkan membantu mereka belajar mengelola perilaku dalam jangka panjang.

Psikolog perkembangan Erik Erikson menekankan pentingnya dukungan saat anak belajar bertanggung jawab. Anak yang tidak dipermalukan saat melakukan kesalahan akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan kontrol diri yang lebih kuat.

Mendisiplinkan anak tanpa bentakan bukan berarti membiarkan mereka tanpa aturan. Justru dengan empati dan batasan yang jelas, anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar—bukan alasan untuk kehilangan cinta dan penerimaan.

Disiplin yang sehat tidak membangun rasa takut, melainkan membentuk karakter dan kemandirian anak dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team