Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9573f4fe-216e-40da-aed9-18692a31f894.jpeg
Bunga Rafflesia yang viral sering ditemukan di Sambas, Kalbar. (IDN Times/Istimewa).

Pontianak, IDN Times - Tak hanya di Pulau Sumatra, ternyata Rafflesia hasseltii yang viral juga sering ditemukan di hutan Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar).

Rafflesia Hasseltii merupakan salah satu bunga langka dari genus Rafflesia yang sering ditemukan di hutan hujan tropis kawasan hutan lindung Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar.

Warga yang menjelajah hutan menuju Mercusuar Tanjung Datuk kerap menjumpai bunga langka tersebut mekar di jalur pendakian.

Tidak seperti di Sumatra, di mana peneliti membutuhkan waktu 13 tahun untuk menemukan kembali bunga Rafflesia hasseltii. Sementara di hutan lindung Desa Temajuk masyarakat justru sering menemukan bunga Rafflesia, termasuk jenis yang jarang ditemui yaitu Rafflesia Hasseltii.

1. Pengakuan warga yang pernah melihat bung Rafflesia

Bunga Rafflesia yang viral ditemukan di Sambas. (IDN Times/istimewa).

Salah satu warga yang pernah melihat langsung bunga Rafflesia Hasseltii mekar sempurna di kawasan hutan hujan tropis kawasan hutan lindung Desa Temajuk, Agri Aditya.

Lima bulan yang lalu, tepatnya pada 29 Juni 2025, dia bersama tiga temannya melakukan trekking menuju Mercusuar Tanjung Datuk melewati hutan lindung Desa Temajuk. Mereka menempuh perjalanan santai sekitar enam jam, dipandu oleh Unyil, seorang petugas mercusuar.

Sekitar satu jam berjalan dari kaki bukit, setelah melintasi hutan lebat, rombongan tanpa sengaja menemukan bunga Rafflesia Hasseltii yang sedang mekar sempurna. Mereka termasuk orang yang sangat beruntung. Agri segera mengabadikan momen itu dan mengaku sangat takjub, begitu juga teman-temannya.

“Itu pengalaman kedua saya bertemu langsung dengan bunga rafflesia yang mekar sempurna. Saya pernah bertemu dengan Rafflesia tuan-mudae di Singkawang pada tahun 2006,” kata Agri, Minggu (30/11/3025).

2. Aromanya lebih menyengat

Bunga Rafflesia belum mekar. (IDN Times/istimewa).

Agri menururkan, bunga Rafflesia Hasseltii yang dia temui memiliki diameter sekitar 30 sampai 40 centimeter. Memang sedikit lebih kecil dari yang ditemukan di Sumatera, namun ciri fisiknya sangat khas seperti pola corak yang acak, lebih besar dan tidak beraturan, serta lubang disk lebih besar, dan warna merah bata yang dominan.

“Aromanya juga lebih menyengat dari Rafflesia tuan-mudae yang pernah saya temui di Singkawang sekitar 19 tahun yang lalu. Saya ingat betul karena itu penemuan yang langka,” ungkapnya.

Saat menemukan bunga itu, Agri dan teman-temannya memotret dan merekam video. Selain satu bunga yang mekar sempurna, mereka juga menemukan lima bunga lain yang masih berbentuk kol atau bonggol, ada yang kecil sebesar kepalan tangan anak-anak, ada yang sebesar lutut orang dewasa, dan ada yang sebesar kepala, tanda sebentar lagi mekar.

3. Kisah warga lain yang juga pernah temukan Rafflesia viral

Rafflesia saat belum mekar. (IDN Times/istimewa).

Tak hanya Agri, seorang petugas Mercusuar Tanjung Datuk bernama Aan juga mengatakan sering menemukan bunga rafflesia di hutan tersebut. Aan mengaku pernah menemukan Rafflesia tuan-mudae di lokasi yang tidak jauh dari tempat Agri menemukan Rafflesia Hasseltii.

Aan bilang, bunga rafflesia memang beberapa kali muncul di jalur itu, terutama saat musim hujan. Bukan hanya dia, temannya yang bertugas di Mercusuar juga sering menemukan bunga Rafflesia mekar sempurna di hutan lindung Desa Temajuk jalur menuju Mercusuar Tanjung Datuk.

“Saya sering melihat bunga-bunga itu mekar. Karena bentuknya mencolok jadi mudah ditemui. Lokasinya ada di beberapa tempat. Biasanya memang sering mekar saat musim hujan seperti sekarang. Terakhir saya bertemu yang mekar tiga bulan lalu,” tuturnya.

Pada Kamis, 27 November 2025 malam, saat pulang dari mercusuar dan melewati jalur yang sama, Aan mengatakan bunga yang mekar pada Juni sudah layu. Namun, dia yakin di titik lain kemungkinan masih ada kol atau bahkan bunga yang sedang mekar.

“Saya janji nanti kalau ada yang mekar lagi akan saya foto dan videokan. Karena kemarin pulang agak kemalaman, jadi sulit melihatnya,” terangnya.

4. Peneliti LIPI Pernah Mencatat Temuan Rafflesia Hasseltii di Sambas

Rafflesia saat masih jadi tunas. (IDN Times/istimewa).

Sampai saat ini, belum ada peneliti yang kembali datang untuk mengidentifikasi populasi Rafflesia yang sering ditemui warga di kawasan hutan lindung Desa Temajuk.

Namun pada 2019, sudah ada jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Reinwardtia Volume 18(2), ditulis oleh empat peneliti: Rismita Sari dan Inggit Puji Astuti dari LIPI – Kebun Raya Bogor, serta Miftahul Huda dan Ratna Susandarini dari Fakultas Biologi UGM.

Di 2019, para peneliti tersebut mencatat keberadaan Rafflesia Hasseltii di kawasan hutan lindung Desa Temajuk, tepatnya di Tanjung Datuk, Kabupaten Sambas yang berbatasan langsung dengan Sarawak Malaysia.

Sebelumnya, pada tahun 2012, Tim Ekspedisi Khatulistiwa TNI AD juga menemukan bunga Rafflesia hasseltii di Tanjung Datuk. Lalu tahun 2013, tim peneliti LIPI kembali ke sana untuk mengumpulkan spesimen.

Dalam jurnal itu, spesimen dari Tanjung Datuk Sambas dibandingkan dengan Rafflesia cantleyi, Rafflesia azlanii, serta Rafflesia hasseltii dari Sumatra dan Sarawak, Malaysia. Hasilnya menunjukkan kecocokan yang kuat dengan Rafflesia hasseltii, meskipun terdapat variasi morfologi.

5. BKSDA Kalimantan Barat Akan Ambil Sampel DNA

Bunga Rafflesia Hasseltii mekar di Indonesia(x.com/thorogoodchris1)

Sementara itu, Kasubbag TU Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Doni Maja Perdana mengatakan, pihaknya telah menerima laporan masyarakat mengenai penemuan Rafflesia Hasseltii di kawasan hutan lindung Temajuk, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas.

“Informasi itu sudah kami terima dari laporan masyarakat dan sudah ada juga yang beredar di media sosial. Ini sudah disampaikan ke pimpinan kami dan akan dilakukan penelitian serta pengambilan sampel DNA untuk memastikan apakah itu benar Rafflesia hasseltii,” tukasnya.

Editorial Team