Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tak Perlu Sempurna, Ini 7 Kunci Orang Tua Hadir Sepenuh Hati untuk Anak
Orang tua sedang menemani anak cowoknya main sepak bola. (pexels.com/Gustavo Fring)

Menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga menghadirkan dukungan emosional. Anak mungkin lupa mainan yang pernah dibelikan, namun mereka akan selalu ingat bagaimana rasanya didengarkan, dipeluk, dan dipahami. Kehadiran emosional inilah yang menjadi fondasi kesehatan mental dan kepercayaan diri anak.

Dalam psikologi perkembangan, anak yang merasa aman secara emosional cenderung lebih mampu mengelola emosi, menjalin relasi sehat, dan menghadapi tekanan hidup. Kehadiran ini bukan soal durasi, melainkan kualitas hubungan.

Berikut tujuh cara agar orang tua dapat hadir secara emosional dalam kehidupan anak:

1. Hadir sepenuhnya saat bersama anak

Ilustrasi Tips Penting untuk Para Orang Tua agar Anak Tidak Merokok. (pexels.com/RDNE Stock project)

Hadir secara emosional berarti fokus sepenuhnya pada anak. Letakkan ponsel, hentikan aktivitas sejenak, dan tatap anak saat berbicara. Menurut psikolog perkembangan Donald Winnicott, orang tua yang “cukup baik” adalah mereka yang responsif terhadap kebutuhan emosional anak, bukan yang sempurna.

2. Mendengarkan tanpa menghakimi

Ilustrasi tips mendidik anak tanpa kehilangan kehangatan pasangan. (pexels.com/Gustavo Fring)

Anak membutuhkan ruang aman untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi. Carl Rogers menekankan pentingnya empathic listening, yakni mendengarkan dengan penuh penerimaan agar anak merasa dihargai.

3. Validasi emosi anak, sekecil apa pun

Ilustrasi Pola Didikan Orang Tua yang Membuat Anak Nakal di Sekolah. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Jangan anggap emosi anak sebagai hal sepele. Mengakui perasaan mereka membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosi. John Gottman menyebut pendekatan ini sebagai emotion coaching.

4. Responsif, bukan reaktif

Orang tua sedang memasak di dapur sambil bermain dengan anak-anaknya. (pexels.com/Elina Fairytale)

Reaksi impulsif dapat membuat anak merasa tidak aman. Psikiater anak Daniel J. Siegel menjelaskan bahwa regulasi emosi anak dipengaruhi oleh ketenangan orang tua melalui proses co-regulation.

5. Luangkan waktu berkualitas secara konsisten

Seorang anak sedang digendong oleh orang tuanya di taman. (pexels.com/Gustavo Fring)

Tak perlu lama atau mahal. Obrolan sebelum tidur atau bermain bersama sudah cukup, asal dilakukan konsisten. John Bowlby melalui teori attachment menegaskan bahwa keterikatan terbentuk dari interaksi hangat yang berulang.

6. Akui kesalahan dan minta maaf pada anak

Seorang anak kecil sedang bermain bersama orang tuanya. (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Mengakui kesalahan menunjukkan kedewasaan emosional. Menurut psikolog keluarga Harriet Lerner, permintaan maaf yang tulus membantu memulihkan kepercayaan dan mengajarkan anak memperbaiki hubungan.

7. Jadilah tempat aman bagi emosi anak

Seorang ibu sedang membimbing anaknya bermain komputer. (pexels.com/Julia M Cameron)

Anak perlu tahu bahwa ia tetap dicintai, meski sedang marah atau sedih. Mary Ainsworth menyebut anak dengan secure attachment tumbuh lebih stabil secara emosional karena memiliki figur yang dapat diandalkan.

Pada akhirnya, menjadi orang tua yang hadir secara emosional bukan tentang kesempurnaan, melainkan kesediaan untuk terhubung, mendengar, dan belajar bersama anak. Kehadiran yang konsisten akan membentuk pondasi psikologis yang kuat hingga mereka dewasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team