Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tangis Ibu saat Kepulangan Aprianus, Gugur di Papua pada Tugas Negara
Pemakaman prajurit Praka Aprianus di Taman Makam Pahlawan. (IDN Times/istimewa).

Sintang, IDN Times - Duka mendalam menyelimuti prosesi penghormatan terakhir bagi Praka (Anumerta) Aprianus, prajurit TNI asal Kabupaten Sintang yang gugur dalam tugas negara di Papua.

Suasana haru menyelimuti Gereja Katedral Sintang saat keluarga, kerabat, dan jajaran TNI melepas kepergian almarhum untuk terakhir kalinya. Di hadapan peti jenazah yang terbalut rapi, sang ibu, Agnes Niga, tak mampu membendung kesedihan.

Aprianus gugur pada Rabu (29/4/2026) setelah terkena tembakan di bagian leher saat kontak senjata di Kabupaten Nduga, Papua. Dia menjalankan tugas sebagai bagian dari Satgas Yonif 623/BWU, setelah sebelumnya berdinas di Yonif 611/Awl.

1. Aprianus dikenal sosok yang sederhana

Prajurit muda asal Sintang gugur saat tugas negara. (IDN Times/istimewa).

Upacara persemayaman berlangsung khidmat dipimpin Dandim 1205/Sintang, Letkol Arm Anggit Wijaksono. Dalam sambutannya, ia menyampaikan duka mendalam atas kepergian prajurit muda tersebut.

“Kami kehilangan putra terbaik bangsa,” ujarnya.

Bagi keluarga, Aprianus bukan hanya seorang prajurit, melainkan sosok anak yang sederhana, bertanggung jawab, dan penuh bakti kepada orang tua.

Agnes mengenang, sejak kecil putranya tumbuh sebagai anak yang tidak pernah merepotkan keluarga, meski berasal dari latar belakang sederhana sebagai anak petani.

“Dia tidak pernah buat kami pusing. Dari SMP sampai SMA dia rajin, tidak pernah macam-macam,” tutur Agnes.

2. Pesan sederhana penuh kasih dengan ibunya

Pemakaman prajurit TNI yang gugur saat tugas negara. (IDN Times/istimewa).

Keputusan menjadi prajurit TNI diambil Aprianus dengan tekad kuat untuk mengubah nasib keluarga. Pilihan tersebut kini menjadi kebanggaan sekaligus luka mendalam bagi orang tua yang ditinggalkan.

Meski berduka, Agnes mengaku bangga atas pengabdian anaknya yang gugur dalam tugas negara.

“Komandannya bilang dia pahlawan terbaik. Kami berterima kasih, anak kami bisa pulang dengan utuh,” ungkapnya.

Namun, kesedihan keluarga semakin bertambah karena kabar duka justru diterima lebih dahulu dari pihak luar. Agnes mengaku sempat merasakan firasat buruk sebelum kabar tersebut datang.

Momen terakhir bersama sang anak pun masih membekas kuat. Pesan sederhana penuh kasih menjadi kenangan terakhir yang kini tak tergantikan.

“Saya bilang, hati-hati kalau ke hutan, jaga diri, jangan lupa berdoa. Dia jawab, ‘iya Ma’,” kenangnya.

3. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan

Suasana haru saat pemakaman Aprianus. (IDN Times/istimewa).

Prosesi penghormatan dilanjutkan dengan pemakaman militer di Taman Makam Pahlawan Syuhada Pertiwi. Dentuman salvo mengiringi peristirahatan terakhir Aprianus, sementara Bendera Merah Putih yang membalut petinya dilipat dengan penuh penghormatan.

Sementara itu, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, yang turut hadir dalam upacara tersebut, menyebut almarhum sebagai putra daerah yang telah memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

“Praka (Anumerta) Aprianus kini telah berpulang. Kisah pengabdian dan pengorbanannya terus dikenang, tak hanya sebagai prajurit, tapi juga sebagai anak, saudara, dan kebanggaan keluarga yang telah memberikan segalanya bagi Indonesia,” tukasnya.

Editorial Team