Masa remaja kerap digambarkan sebagai fase penuh tawa, pertemanan, dan pencarian jati diri. Namun di balik hiruk-pikuk tersebut, tidak sedikit remaja yang justru menyimpan kesedihan dalam diam. Tangisan mereka bukan terjadi di depan banyak orang, melainkan di kamar gelap, kamar mandi, atau saat rumah telah terlelap. Menangis diam-diam pun menjadi ruang aman terakhir ketika kata-kata tak lagi mampu mewakili perasaan.
Fenomena ini bukan tanda kelemahan, melainkan respons emosional atas tekanan yang sering kali tidak diberi ruang untuk diungkapkan. Remaja hidup di tengah tuntutan akademik, ekspektasi sosial, serta perubahan emosi yang intens. Di sisi lain, mereka kerap diajarkan untuk “kuat” dan tidak merepotkan orang lain. Akibatnya, air mata menjadi bahasa paling jujur yang hanya didengar oleh diri sendiri.
Berikut sejumlah alasan mengapa menangis diam-diam kerap menjadi kebiasaan banyak remaja.
