Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wanita sedang rebahan lemas.
Ilustrasi Tanda Kamu sedang Mengalami Kelelahan Emosional. (pexels.com/Alina Matveycheva)

Overthinking kerap dianggap sekadar kebiasaan berpikir berlebihan. Padahal, kondisi ini sering kali dipicu oleh pola kebiasaan tertentu yang tanpa disadari terus dipelihara. Banyak orang merasa sedang “berusaha memahami keadaan” atau “berjaga-jaga”, padahal pikiran justru berputar tanpa arah dan menguras energi mental.

Masalahnya, overthinking jarang mereda dengan sendirinya. Jika dibiarkan, pola ini akan semakin kuat dan membentuk lingkaran yang sulit diputus. Sejumlah kebiasaan yang tampak wajar dalam keseharian justru menjadi pemicu utama overthinking semakin parah.

Berikut lima kebiasaan yang tanpa disadari memperburuk overthinking.

1. Mengulang-ulang kejadian di kepala

Ilustrasi Hal yang Sering Kamu Toleransi padahal Sangat Menyakiti Mental. (pexels.com/Karola G)

Kebiasaan ini kerap dianggap sebagai upaya belajar dari kesalahan. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa solusi nyata, pikiran hanya berputar di titik yang sama. Otak sulit melepaskan diri dari masa lalu, sementara emosi negatif terus terulang dan membuat mental terasa lelah meski tubuh sedang beristirahat.

2. Selalu mencari jawaban yang paling sempurna

Ilustrasi Tips Membangun Kebiasaan yang Tidak Mudah Runtuh. (pexels.com/Laura Oliveira)

Keinginan untuk mengambil keputusan yang benar-benar tepat sering memicu overthinking. Terlalu banyak kemungkinan dipertimbangkan, disertai ketakutan akan kesalahan. Alih-alih merasa tenang, pikiran justru semakin penuh karena tidak ada pilihan yang terasa cukup aman.

3. Terlalu fokus pada hal yang tidak bisa dikendalikan

Ilustrasi Hal tentang Luka Masa Kecil yang Terbawa hingga Dewasa. (pexels.com/Pexels User)

Membayangkan reaksi orang lain, hasil di masa depan, hingga kemungkinan terburuk sering dilakukan dengan harapan bisa mengantisipasi segalanya. Namun, fokus berlebihan pada hal yang tidak dapat dikendalikan hanya menambah beban mental dan membuat pikiran bekerja tanpa kejelasan.

4. Menghindari diam dan keheningan

Ilustrasi Macam-macam Luka Lama yang Selalu Muncul di Setiap Awal Tahun. (pexels.com/Caio Mantovani)

Bagi sebagian orang, diam terasa tidak nyaman. Saat tidak ada distraksi, pikiran langsung dipenuhi kekhawatiran. Untuk menghindarinya, berbagai aktivitas dan hiburan terus dicari. Sayangnya, kebiasaan ini membuat overthinking tidak pernah benar-benar diproses, sehingga muncul lebih kuat saat suasana akhirnya sunyi.

5. Terlalu keras menyalahkan diri sendiri

Ilustrasi Alasan Mengapa Awal Tahun sering Membuat Kita Merasa Kosong. (pexels.com/Letícia Alvares)

Kritik berlebihan terhadap diri sendiri kerap mengubah overthinking menjadi serangan mental. Setiap kesalahan dibedah berulang kali, disertai penyesalan dan pikiran “seharusnya aku bisa lebih baik”. Akibatnya, pikiran terjebak dalam rasa bersalah, bukan refleksi yang sehat.

Overthinking bukan hanya soal cara berpikir, tetapi juga tentang kebiasaan yang dibangun setiap hari. Dengan mengenali kebiasaan yang memperparahnya, seseorang dapat mulai mengubah arah pikiran secara perlahan. Tidak perlu menghentikan overthinking secara paksa, cukup kurangi kebiasaan yang memberi ruang bagi kecemasan, dan beri kesempatan pikiran untuk beristirahat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team