Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sosok penjaga klenteng, Slamet.
Sosok penjaga klenteng, Slamet. (IDN Times/Teri).

Kubu Raya, IDN Times - Selama hampir 30 tahun, Pak Slamet (74) setia menjaga Klenteng Tengah Laut (Xuan Wu Zhen Tan) di Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sebagai seorang muslim, ia membuktikan bahwa toleransi tidak hanya sebatas wacana, tetapi hadir dalam tindakan nyata.

Kelenteng yang berdiri di tengah laut itu memiliki daya tarik tersendiri. Selain lokasinya yang terpencil dan dikelilingi air, sosok penjaganya menjadi cerita unik yang kerap menarik perhatian pengunjung.

1. Slamet punya keterbatasan pada kakinya

Klenteng tengah laut merupakan cagar budaya. (IDN Times/Teri).

Dengan bantuan tongkat akibat keterbatasan pada kakinya, Slamet tetap menjalankan tugasnya setiap hari. Ia mengenang awal mula bekerja sebagai penjaga kelenteng dengan upah Rp400 ribu per bulan.

“Dulu saya jaga pekong ini digaji Rp400 ribu. Waktu itu saya sempat berhenti karena merasa belum cukup,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).

Tak lama berselang, ia kembali diminta menjaga kelenteng. Namun kali ini, ia memilih bekerja tanpa menerima gaji tetap.

“Kalau tidak digaji saya lebih bebas. Bisa ke mana-mana, tidak terikat,” tuturnya.

Meski tidak menerima upah rutin, Slamet mengaku kerap mendapat pemberian sukarela dari pengunjung yang datang.

2. Berangkat ke Klenteng menggunakan sampan

Klenteng tengah laut di Kubu Raya jadi daya tarik wisatawan. (IDN Times/Teri).

Slamet tidak tinggal di area kelenteng. Ia menetap di kawasan dekat pabrik di tepi pantai dan setiap hari harus menyeberang menggunakan perahu untuk tiba di lokasi.

Rutinitasnya dimulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Khusus hari Minggu, ia biasanya pulang lebih sore, sekitar pukul 18.00 WIB.

3. Slamet banyak bertemu dengan berbagai orang dari penjuru dunia

Penjaga klenteng tengah laut, sosok muslim, Slamet. (IDN Times/Teri).

Meski berbeda keyakinan dengan mayoritas umat yang beribadah di kelenteng, Slamet tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Baginya, selama pekerjaan tidak melanggar norma dan aturan, semuanya sama saja.

“Semua sama saja menurut saya, tidak masalah,” ucapnya singkat.

Selama tiga dekade menjaga kelenteng, ia telah bertemu dengan banyak orang dari berbagai daerah, terutama menjelang perayaan Imlek. Pengunjung datang dari luar kota seperti Jakarta, bahkan wisatawan mancanegara.

“Setiap hari pasti ada yang datang. Pernah juga tamu dari Belanda bersama istrinya yang orang Indonesia,” katanya.

Konsistensi dan loyalitas Slamet menjadi gambaran nyata toleransi antarumat beragama di Indonesia. Di tengah laut Desa Kakap, ia menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling percaya dan hidup berdampingan.

Editorial Team