Self-improvement kerap dipromosikan sebagai jalan menuju hidup yang lebih baik: lebih produktif, lebih disiplin, dan lebih sukses. Beragam buku, konten digital, hingga kutipan motivasi menawarkan harapan bahwa dengan usaha yang cukup, setiap orang bisa menjadi versi terbaik dari dirinya. Keinginan untuk bertumbuh tentu bukan hal yang keliru.
Namun, ketika proses memperbaiki diri dilakukan tanpa keseimbangan, self-improvement justru dapat berubah menjadi sumber tekanan yang halus tetapi berkelanjutan. Alih-alih merasa berkembang, seseorang bisa merasa lelah, cemas, dan terus dibayangi perasaan tidak pernah cukup.
Berikut lima sisi gelap self-improvement yang kerap luput disadari:
