Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tradisi yang Bertahan: Kampung Ketupat Samarinda Panen Pesanan Lebaran
ilustrasi ketupat (unsplash.com/Mufid Majnun)

Samarinda, IDN Times - Kampung Ketupat di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dipadati aktivitas para perajin yang tengah sibuk memenuhi lonjakan pesanan ketupat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Salah satu perajin, Adelin Rahmawati, mengungkapkan bahwa permintaan ketupat meningkat signifikan setiap musim Lebaran.

“Permintaan ketupat melonjak setiap Lebaran. Dalam sepekan menjelang hari raya, kami bisa menjual hingga 10.000 ketupat,” ujarnya diberitakan Antara, Kamis (19/3/2026).

1. Permintaan datang dari konsumen di Kaltim

ilustrasi ketupat (pixabay.com/ignartonosbg)

Permintaan tersebut tidak hanya datang dari Samarinda, tetapi juga dari sejumlah daerah lain seperti Balikpapan, Penajam Paser Utara, hingga Bontang.

Kampung Ketupat sendiri memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Usaha ini dirintis oleh nenek Adelin, yang kala itu memasarkan ketupat dengan menggunakan perahu dayung ke sejumlah pasar di Samarinda.

“Dulu, nenek saya mengantar ketupat ke Pasar Pagi dan Pasar Segiri menggunakan perahu,” kenangnya.

Seiring waktu, kawasan ini berkembang dan pada 2018 ditetapkan oleh Pemerintah Kota Samarinda sebagai kampung wisata.

2. Sistem pembuatan ketupat masih tradisional

ilustrasi hidangan ketupat (unsplash.com/K Azwan)

Dalam proses produksinya, para perajin masih mempertahankan cara tradisional. Daun nipah sebagai bahan utama diperoleh dari daerah muara, kemudian dijemur selama dua hingga tiga hari sebelum dianyam menjadi wadah ketupat.

“Kami menjemur daun nipah selama dua hingga tiga hari, tergantung kondisi cuaca,” jelas Adelin.

Meski permintaan tinggi, para perajin menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Saat ini, daun nipah dibeli dari pengepul dengan harga sekitar Rp50.000 per ikat.

Satu ikat daun nipah dapat menghasilkan sekitar 250 hingga 300 ketupat berukuran kecil.

3. Omzet jumbo pengrajin ketupat

ilustrasi ketupat sayur tanpa santan (vecteezy.com/michael nero jonnes)

Perajin lainnya, Ramdhani, menyebutkan bahwa omzet penjualan ketupat selama musim Lebaran dapat mencapai puluhan juta rupiah.

“Bahkan, ada satu warung di sini yang omzetnya bisa mencapai Rp10 juta selama musim Lebaran,” ungkapnya.

Ketupat yang diproduksi di Kampung Ketupat tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari ukuran kecil untuk hidangan seperti coto Makassar dan ketupat Kandangan, hingga ukuran besar yang biasa disajikan bersama soto Banjar.

Editorial Team