Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tragis! Santri Tewas dengan Luka Lebam, Keluarga Minta Diusut Tuntas
Santri asal Kayong Utara alami lebam wajah hingga meninggal dunia. (IDN Times/istimewa).

Kubu Raya, IDN Times - Seorang santri asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar), berinisial IZA meninggal dunia setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan sejumlah luka lebam di wajah.

Keluarga menduga remaja berusia 16 tahun itu menjadi korban kekerasan saat menempuh pendidikan di sebuah pesantren.

IZA mengembuskan napas terakhir pada Jumat (13/3/2026) sekitar pukul 07.00 WIB di RSU Santo Antonius Pontianak.

1. Keluarga minta kasus diusut tuntas

ilustrasi kekerasan pada anak (unsplash.com/Ольга Андреева)

Paman korban, Rio, menuturkan jenazah IZA telah dimandikan dan dikafankan di Pontianak sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara.

“Iya, ponakan saya meninggal sekitar jam 7 pagi tadi. Saya tidak sempat menyusul ke Pontianak. Jenazah sudah dimandikan dan dikafankan di Pontianak. Nanti akan dibawa pulang ke Kayong,” ujar Rio, Jumat (13/3/2026).

Keluarga berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan serta meminta agar kasus yang menimpa IZA dapat diusut hingga tuntas.

“Semoga almarhum husnul khatimah dan mendapatkan keadilan di dunia,” katanya.

IZA merupakan anak dari Ahmad Edi Santoso dan Nur Hasanah, warga Kayong Utara. Ia tercatat sebagai santri di Pesantren Labbaik Indonesia yang berlokasi di Jalan Parit Kerakah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar.

2. Pihak pesantren sebut korban alergi paracetamol

Santri di Kubu Raya alami lebam wajah adalah seorang Hafizh. (IDN Times/istimewa).

Sebelum meninggal dunia, IZA sempat menjalani perawatan intensif setelah diduga mengalami trauma pada bagian kepala.

Kondisi IZA pertama kali diketahui orang tuanya setelah pihak pesantren mengabarkan bahwa putra mereka mengalami alergi terhadap obat parasetamol.

Mendapat kabar tersebut, kedua orang tua IZA segera berangkat dari Kayong Utara menuju Kubu Raya untuk memastikan kondisi anak mereka. Namun setibanya di rumah sakit, keluarga menemukan kondisi berbeda dari penjelasan awal.

“Kami awalnya diberitahu anak kami alergi parasetamol. Tapi setelah melihat langsung, wajahnya lebam dan bengkak parah. Ini terlihat bukan seperti alergi,” kata ayah korban, Ahmad.

3. Dugaan kuat ada kekerasan fisik pada tubuh korban

Ilustrasi kekerasan seksual. (Freepik)

Foto yang beredar memperlihatkan korban terbaring di ranjang perawatan dengan kedua mata bengkak hingga hampir tertutup. Memar kehitaman terlihat jelas di sekitar mata dan pipi korban, bahkan terdapat benjolan besar di bagian kening.

Melihat kondisi tersebut, keluarga menduga IZA menjadi korban kekerasan saat berada di lingkungan pesantren.

Dokter jaga di RS Bhayangkara Pontianak yang pertama menangani korban juga menyebut adanya dugaan trauma pada bagian kepala sehingga korban memerlukan penanganan medis lanjutan.

4. Bantahan adanya kekerasan dari pesantren

Ilustrasi korban tewas (IDN Times/ Mardya Shakti)

Sementara itu, Kepala Asrama pesantren, Ustaz Muhammad Aziz Shofiuddin, memastikan tidak ada kekerasan yang terjadi di asrama.

Pihak pesantren menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari dokter terkait kondisi IZA dan berharap penyebab peristiwa tersebut segera terungkap. “Insya Allah tidak ada kekerasan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Sekolah SMA Pesantren Labbaik Indonesia, Ustaz Aswandi Alfatih. Ia mengatakan pihak pesantren belum dapat memberikan keterangan pasti terkait penyebab kejadian tersebut. Menurutnya, pihak pesantren juga telah meminta keterangan dari sejumlah santri, namun hingga kini belum ditemukan indikasi adanya tindak kekerasan.

“Kami sudah meminta keterangan dari beberapa santri, tetapi sampai saat ini belum ada indikasi adanya tindak kekerasan. Jadi kami juga belum bisa memberikan kesimpulan,” tutupnya.

Editorial Team