Pendapat Pedagang di Samarinda Soal Vaksin COVID-19, Ada yang Menolak

Ragam komentar pedagang soal vaksin COVID-19

Samarinda, IDN Times - Bencana non alam atau COVID-19 di Indonesia hingga kini belum dapat teratasi.

Berbagai upaya dilakukan untuk menekan angka penularan virus. Mulai dari kebijakan pemerintah seperti pembatasan sosial berskala besar sampai dengan anjuran penerapan protokol kesehatan COVID-19 di era New Normal.

Terbaru berdasarkan keterangan Pemerintah Indonesia, pasokan vaksin COVID-19 tersedia di Indonesia mulai November 2020.

Kabar baik ini lantas menuai berbagai macam respon dari masyarakat.

Berikut IDN Times rangkum beberapa respon pedagang terkait kabar akan tersedianya vaksin COVID-19 di Kalimantan Timur.

1. Siap divaksin asal biaya ditanggung pemerintah

Pendapat Pedagang di Samarinda Soal Vaksin COVID-19, Ada yang MenolakPedagang gado-gado di Samarinda (IDN Times/AchmadTirtaWahyuda)

Penjual gado-gado "Artomoro" Jalan Kemangi, Sungai Kunjang bernama Utami (58) asal Tulungagung, Jawa Timur yang telah merantau ke Samarinda sejak tahun 1984 ini mengutarakan keberaniannya untuk menjadi relawan COVID-19.

Utami yang selama masa pandemik COVID-19 merasakan dampak ekonomi menilai bahwa adanya vaksin dapat menjadi solusi untuk mengakhiri musibah ini.

"Kalau ada saya berani. Asal gratis saya ini orang-orang kecil mau aja. Ketimbang was-was terus," tutur Utami.

Baca Juga: DPRD Dukung Sekolah Tatap Muka di Samarinda, Ini Empat Poin Alasannya

2. Berani asal ada contoh vaksin yang berhasil

Pendapat Pedagang di Samarinda Soal Vaksin COVID-19, Ada yang MenolakPedagang bakso bakar keliling (IDN Times/Achmad Tirta Wahyuda)

Tak jauh berbeda dengan Utami pedagang gado-gado. Boni (42) pedagang bakso bakar keliling mengaku mengetahui kabar adanya vaksin COVID-19 di Indonesia.

Ia lantas tak begitu percaya. Lantaran menurutnya perlu contoh konkrit dari pemerintah. Jangan sampai masyarakat kecil jadi kelinci percobaan.

"Kalau saya asal ada jaminan keselamatan oke-oke aja mas. Kami ini sudah susah selama ada virus Corona, jangan sampai pas di vaksin malah modar (mati atau mampus bahasa Jawa)," celetuk Boni.

3. Tidak berani karena belum teruji hasilnya

Pendapat Pedagang di Samarinda Soal Vaksin COVID-19, Ada yang MenolakPedagang sayur mayur (IDN Times/Achmad Tirta Wahyuda)

Berbeda dari dua pedagang sebelumnya, pedagang sayur mayur Isnaniah (55) warga asli Samarinda ini justru menolak jika diminta melakukan vaksin COVID-19.

Bukan tanpa alasan, menurutnya jika pemerintah pusat atau pemerintah daerah nantinya lebih dulu memberi vaksin kepada masyarakat dengan jumlah besar, hal tersebut menandakan masyarakatlah yang menjadi bahan percobaan.

Sebagai masyarakat awam, ia menyadari minimnya informasi terkait vaksinasi COVID-19. Informasi mengenai vaksin COVID-19 hanya ia dapatkan dari anaknya yang masih sempat membaca berita baik dari portal online maupun siaran televisi.

"Tahu, tapi tidak begitu paham. Saya gak berani karena belum teruji," pungkas Isnaniah.

Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan COVID-19, menggelar kampanye 3 M : Gunakan Masker, Menghindari Kerumunan atau jaga jarak fisik dan rajin Mencuci tangan dengan air sabun yang mengalir. Jika protokol kesehatan ini dilakukan dengan disiplin, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan virus. Menjalankan gaya hidup 3 M, akan melindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita. Ikuti informasi penting dan terkini soal COVID-19 di situs covid19.go.id dan IDN Times

Baca Juga: Begini Curhat Orangtua di Samarinda Selama Penerapan Belajar Online

Topik:

  • Anjas Pratama

Berita Terkini Lainnya