Program pelatihan untuk 1.000 pelatih fisik ini diharapkan mampu mendongkrak performa atlet Kaltim, utamanya menyambut PON di NTB dan NTT 2028. (Dok. KONI Kaltim)
Persoalan fisik atlet tak bisa dipandang sebelah mata. Seperti yang terjadi Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh-Sumatera Utara lalu, sejumlah atlet asal Kaltim tak mampu tampil optimal saat melakoni pertandingan penentuan. Hal itu karena kondisi kekuatan fisik yang kurang maksimal.
Pada PON XXI/2024 tersebut, Kaltim belum mampu memenuhi target masuk 5 besar. Kontingen Kaltim harus puas duduk di peringkat 8 klasemen, dengan koleksi 29 emas, 55 perak, dan 69 perunggu.
Banyaknya medali perak yang diraih atlet, menunjukkan banyak yang tak mampu tampil optimal di partai puncak.
"Berdasarkan hasil analisis, selain persoalan mental, persoalan fisik atlet juga memengaruhi. Sehingga pada partai final mereka justru tidak optimal," terang Ego Arifin yang juga menjabat Wakil Ketua I KONI Kaltim .
Faktor lain, kata dia, adalah tak semua pelatih mengerti cara meningkatkan kualitas fisik atlet. Hasil evaluasi ini, menjadi momen yang tepat untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang paham dari sisi peningkatan kualitas fisik. Program membangun 1.000 pelatih fisik pun digaungkan oleh Ketua KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras.