Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pemuda Asal Pontianak Jadi Ultracyclist se-Asia.
Pemuda Asal Pontianak Jadi Ultracyclist se-Asia. (IDN Times/Istimewa).

Pontianak, IDN Times - Seorang remaja asal Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Muhammad Gusti Hibatullah, menorehkan prestasi membanggakan di dunia olahraga sepeda. Di usia 15 tahun, Gusti sukses mencatatkan diri sebagai ultracyclist termuda se-Asia.

Prestasi tersebut diraih setelah Gusti menuntaskan tantangan ultracycling sejauh 1.500 kilometer pada ajang Lintas Borneo 2025 yang diselenggarakan oleh Pontianak Endurance Ride. Ia menjadi yang termuda sekaligus satu-satunya perwakilan Kalimantan Barat dalam ajang tersebut.

Dalam event itu, Gusti bersaing dengan enam peserta lain yang berasal dari berbagai daerah dan negara, mulai dari Jakarta, Samarinda, Malaysia, hingga Jerman. Ia berhasil menyelesaikan rute panjang yang melintasi Pontianak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Putussibau, Badau, Kuching, Aruk, Sambas, Pemangkat, Singkawang, dan kembali ke Pontianak dalam waktu total 152 jam atau sekitar 6 hari 8 jam.

“Hal terpenting dari event ultra adalah unsupported. Selama perjalanan dari start sampai finish tidak boleh ada bantuan dalam bentuk apa pun, termasuk dari panitia. Saya ikut kategori solo, jadi gowes mandiri sejauh 1.500 kilometer,” ujar Gusti, Rabu (14/1/2026).

1. Kalahkan 6 peserta lainnya

Peserta Ultracycling Lintas Borneo. (IDN Times/Istimewa).

Dalam event itu, Gusti bersaing dengan enam peserta lain yang berasal dari berbagai daerah dan negara, mulai dari Jakarta, Samarinda, Malaysia, hingga Jerman. Ia berhasil menyelesaikan rute panjang yang melintasi Pontianak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Putussibau, Badau, Kuching, Aruk, Sambas, Pemangkat, Singkawang, dan kembali ke Pontianak dalam waktu total 152 jam atau sekitar 6 hari 8 jam.

“Hal terpenting dari event ultra adalah unsupported. Selama perjalanan dari start sampai finish tidak boleh ada bantuan dalam bentuk apa pun, termasuk dari panitia. Saya ikut kategori solo, jadi gowes mandiri sejauh 1.500 kilometer,” ujar Gusti, Rabu (14/1/2026).

Menurut Gusti, ultracycling bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga mental yang kuat. Para peserta dituntut untuk mengayuh sepeda selama berhari-hari dengan berbagai tantangan di sepanjang perjalanan.

2. Tantangan yang dihadapi

Peserta Ultracycling Lintas Borneo. (IDN Times/Istimewa).

Ia mengaku harus menghadapi cuaca ekstrem, rasa lelah, hingga kejenuhan. Selain itu, aturan ketat dalam ajang ultracycling membuat setiap peserta benar-benar harus mandiri tanpa bantuan pihak luar.

“Dilarang keras dikawal motor atau mobil, ditemani keluarga, atau menerima suplai dari luar. Tidak boleh gowes barengan antar peserta. Jarak minimal antar peserta 500 meter, dan bisa didiskualifikasi jika bersepeda bersama lebih dari 30 menit. Jadi benar-benar wajib solo dan unsupported,” jelasnya.

Setiap peserta juga dibekali tracker oleh panitia untuk memantau pergerakan sekaligus mencegah kecurangan. Panitia disiagakan di sejumlah checkpoint, sementara dokumentasi dilakukan oleh fotografer yang berada di jalur perlombaan.

3. Sempat alami overheat, dan sakit saat di Malaysia

Ultracycling termuda se-Asia asal Pontianak. (IDN Times/Istimewa).

Selama perjalanan, Gusti sempat mengalami kondisi fisik yang cukup berat. Ia mengalami overheat, demam, dan meriang saat memasuki wilayah Malaysia, tepatnya di kilometer ke-980, yang hampir membuatnya menyerah.

“Waktu itu kondisi badan sudah tidak enak, pikiran campur aduk antara lanjut atau menyerah dan pulang ke Pontianak,” tuturnya.

Tantangan belum berhenti. Saat kembali memasuki wilayah Indonesia, tepatnya di Kabupaten Sambas, Gusti mengalami cedera di lengan akibat terserempet pengendara motor. Meski dalam kondisi terluka dan kelelahan, ia memilih melanjutkan perjalanan hingga garis finis.

“Dengan rasa kesal dan marah, saya tetap lanjut. Banyak hal terjadi di jalan. Jarak 1.500 kilometer bukan hanya soal fisik, tapi juga soal mengenal diri sendiri lebih dalam,” ujarnya.

4. Target yang bakal dilampaui di tahun 2026

Pemuda asal Pontianak, Gusti torehkan prestasi dalam Ultracycling. (IDN Times/istimewa).

Memasuki tahun 2026, Gusti menargetkan kembali memecahkan rekornya di ajang Lintas Borneo yang dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang. Ia juga menyiapkan diri untuk mengikuti event ultracycling Bentang Jawa, yang memiliki jarak serupa namun dengan tingkat elevasi lebih tinggi.

“Start dari Banten dan finish di Banyuwangi. Itu jadi impian saya ke depan,” katanya.

Sebagai ultracyclist termuda se-Asia, Gusti berharap mendapatkan apresiasi dan dukungan lebih dari pemerintah daerah agar dapat terus mengharumkan nama Pontianak, Kalimantan Barat, dan Indonesia di kancah internasional.

“Semoga ada dukungan, supaya saya semakin semangat membawa nama daerah dan Indonesia,” pungkasnya.

Editorial Team