ilustrasi salah satu gedung di Xiamen University (IDN Times/Mela Hapsari)
Dikutip dari historia.id, pada masa pelarian Tan Kah Kee ke tanah Jawa, Jepang membentuk Keibotai atau pasukan pembantu polisi yang anggotanya khusus pemuda-pemuda Tionghoa. Tan Kah Kee berpandangan jangan sampai Keibotai dimanfaatkan Jepang sebagai ‘perisai’ menghadapi kemarahan Rakyat Indonesia.
Justru, dicatat dalam Lima Jaman oleh Siauw Giok Tjhan, Keibotai perlu digunakan sebagai penggugah kesadaran pemuda peranakan Tionghoa, bahwa mereka adalah putra Indonesia, yang perlu ikut serta dengan putra-putra Indonesia lainnya untuk memperjuangkan perbaikan nasib bagi seluruh rakyat Indonesia dan mencapai kemerdekaan nasional.
Tan Kah Kee juga pernah mendorong orang Tionghoa di Amoy (Xiamen), Swatow, dan Shanghai untuk memboikot layanan kepada dan menggunakan kapal Belanda. Boikot ini dilakukan sebagai respons atas blokade perdagangan oleh tentara Belanda di perairan Sumatera dan Singapura. Boikot yang digerakkan oleh Tan Kah Kee ini membuat Belanda marah.
Paviliun di Taman Kura-kura (IDN Times/Mela Hapsari)
Itulah kisah inspiratif Tan Kah Kee, seorang perantau yang tak lupa kampung halamannya di Xiamen. Selain itu sosoknya juga dikenang karena jiwa wirausaha, kepemimpinan, kepedulian dan sifatnya yang dermawan. Warisan berupa sekolah dan universitas yang didirikannya hingga kini masih tetap bermanfaat untuk memberikan edukasi bagi generasi muda.