Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Berdiri Sejak 1778, Masjid Jami Pontianak Jadi Saksi Perkembangan Kota

Kota Pontianak
2 min read
Berdiri Sejak 1778, Masjid Jami Pontianak Jadi Saksi Perkembangan Kota
Destinasi wisata, Masjid Jami Pontianak. (IDN Times/Teri).
  • Masjid Jami Pontianak dibangun sekitar 1778 oleh Sultan Syarif Abdurrahman, pendiri Pontianak, lalu pembangunannya dilanjutkan putranya, Syarif Usman, yang menamainya sesuai sang ayah.
  • Masjid berdesain klasik ini memiliki enam pilar kayu belian, berkapasitas sekitar 1.500 jemaah, dan berada dekat Sungai Kapuas, pasar ikan lokal, serta Kampung Beting.
  • Sebagai peninggalan Kesultanan Pontianak, masjid terus dirawat, termasuk atap sirap kayu belian, untuk menjaga kondisi bangunan dan nilai sejarah Islam serta perkembangan awal kota.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman atau Masjid Jami Pontianak menjadi salah satu bangunan bersejarah yang tidak terpisahkan dari perjalanan Kota Pontianak. Dibangun sekitar 1778, masjid ini menjadi salah satu dari dua situs yang berkaitan erat dengan awal berdirinya Pontianak, selain Istana Kadriyah.

Masjid Jami Pontianak bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat. Bangunan ini juga menyimpan jejak sejarah Kesultanan Pontianak sekaligus menjadi saksi perkembangan awal kota.

  1. 1. Dinamai oleh Syarif Usman

    Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Pontianak. (Foto : Fahruddin Fitriya)
    Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Pontianak. (Foto : Fahruddin Fitriya) (https://drive.google.com/file/d/1YdsX_xegFanbans9CaBRguR1L2xFu2F-/view?usp=sharing)

    Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 1771 di kawasan pertemuan Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Saat itu, kawasan tersebut masih berupa hutan yang kemudian dibuka untuk membangun balairung dan rumah-rumah penduduk.

    Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1778, Syarif Abdurrahman menjadi Sultan Pontianak pertama. Pada masa pemerintahannya, dibangun dua bangunan penting di kawasan Dalam Bugis, Pontianak Timur, yakni Masjid Sultan Syarif Abdurrahman dan Istana Kadriyah.

    Setelah Syarif Abdurrahman wafat, pembangunan masjid dilanjutkan oleh putranya, Syarif Usman. Masjid tersebut kemudian diberi nama sesuai nama sang ayah.

  2. 2. Enam pilar masjid kayu belian

    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Jami Pontianak yang menampilkan mihrab, mimbar, dan lampu gantung.
    Pemandangan aula salat di dalam Masjid Jami Pontianak yang menampilkan mihrab, mimbar, dan lampu gantung. (commons.wikimedia.org/Zhilal Darma)

    Masjid Jami Pontianak memiliki desain klasik dengan sejumlah elemen bangunan yang masih menunjukkan karakter masa lalu. Salah satunya adalah enam pilar utama yang terbuat dari kayu belian atau kayu ulin yang dikenal kuat dan tahan lama.

    Bangunan masjid ini disebut mampu menampung sekitar 1.500 jemaah. Lokasinya juga memiliki karakteristik tersendiri karena berada di kawasan permukiman dan berdekatan dengan aktivitas masyarakat.

    Di sebelah kiri pintu masuk terdapat pasar ikan lokal, sedangkan Kampung Beting berada di bagian belakang masjid. Bangunan masjid juga menghadap ke barat, ke arah Sungai Kapuas.

    Posisi tersebut membuat Masjid Jami Pontianak memiliki keterkaitan erat dengan sungai yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan perkembangan Kota Pontianak.

  3. 3. Peninggalan sejarah Islam di Kota Pontianak

    Pemandangan pintu masuk dan atap Masjid Jami Pontianak.
    Pemandangan pintu masuk dan atap Masjid Jami Pontianak. (commons.wikimedia.org/Aliff12)

    Sebagai bangunan bersejarah, Masjid Jami Pontianak telah menjalani perawatan dan sejumlah perbaikan selama bertahun-tahun. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi bangunan sekaligus mempertahankan nilai sejarahnya.

    Salah satu bagian yang mendapat perhatian adalah atap masjid yang menggunakan sirap kayu belian. Kayu tersebut juga mendapat perlakuan khusus agar lebih tahan terhadap kondisi iklim tropis.

    Kini, Masjid Jami Pontianak tetap menjadi salah satu bagian penting dari sejarah kota. Keberadaan bangunan lama, elemen kayu, serta kaitannya dengan Kesultanan Pontianak membuat masjid ini menjadi salah satu situs yang merekam perjalanan awal Kota Pontianak.

    Masjid ini pun menjadi tujuan bagi masyarakat dan pengunjung yang ingin mengenal lebih jauh sejarah Pontianak dan warisan Islam yang berkembang sejak masa awal berdirinya kota.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More