Kenalan dengan Kue Bingke, Kuliner Pontianak yang Punya Tekstur Unik

Kue Bingke merupakan kuliner khas Pontianak bercita rasa manis dan legit, dengan ciri utama bagian tengah lembut seperti sedikit setengah matang yang membutuhkan ketelitian saat dipanggang.
Asal-usul Bingke belum pasti, tetapi kue ini diyakini berkembang dari pertemuan budaya Tionghoa dan Melayu sebelum mulai dipasarkan luas sekitar 30 tahun terakhir.
Bingke hadir dalam pernikahan, hari raya, acara keluarga, dan tradisi bertamu; kini tersedia dalam beragam rasa, sambil mempertahankan bahan serta teknik pembuatan turun-temurun.
Take a Deeper Reads

Kalau menyebut kuliner khas Pontianak, Kue Bingke hampir selalu masuk dalam daftar. Kue tradisional ini telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat, bukan hanya karena rasanya yang manis dan legit, tetapi juga karena kehadirannya dalam berbagai momen, mulai dari hidangan di rumah, acara keluarga, hingga pernikahan.
Sekilas, tampilan Bingke terbilang sederhana. Bentuknya menyerupai kue lumpur dengan warna kuning keemasan dan aroma santan yang kuat. Namun, teksturnya menjadi pembeda utama.
1. Tekstur bagian tengah kue yang lembut

kue bingke (instagram.com/bingke_khatulistiwa) Bagian tengah Bingke terasa lembut, bahkan cenderung sedikit setengah matang. Kondisi tersebut bukan karena kue kurang matang, melainkan menjadi salah satu ciri khas Bingke. Proses pembuatannya pun membutuhkan ketelitian. Sedikit saja keliru dalam mengatur bahan atau proses pemanggangan, tekstur Bingke bisa berubah.
Tak heran, membuat Bingke tidak cukup hanya mengandalkan resep. Pengalaman dan kesabaran juga menjadi bagian penting untuk menghasilkan kue dengan tekstur yang pas.
Asal-usul Kue Bingke belum memiliki satu cerita yang benar-benar pasti. Berdasarkan penuturan sejumlah informan dan hasil penelitian di Pontianak, kue ini diyakini telah ada sejak lama dan berkembang melalui pertemuan berbagai budaya.
2. Asal usul kue ini di Pontianak

ilustrasi orang masak (pexels.com/Vlada Karpovich) Salah satu cerita yang banyak berkembang menyebutkan Bingke pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Tionghoa. Kue tersebut kemudian diikuti dan dikembangkan oleh masyarakat Melayu hingga menjadi Bingke yang dikenal saat ini.
Sebagian masyarakat mengenal Bingke dari cerita orang tua mereka tanpa mengetahui secara pasti kapan kue tersebut mulai dibuat. Namun, ada satu kesamaan cerita, yakni Bingke telah lama dikenal masyarakat Pontianak, jauh sebelum dipasarkan secara luas.
Sekitar 30 tahun terakhir, Bingke mulai banyak dijual di toko kue dan pasar. Bingke Al-Fajar disebut sebagai salah satu yang lebih dahulu menjual Bingke secara komersial sekaligus memperkenalkannya sebagai oleh-oleh khas Pontianak.
Nama “bingke” sendiri diduga berasal dari istilah dalam bahasa Tionghoa yang merujuk pada kue atau adonan panggang. Dugaan tersebut menggambarkan bagaimana Bingke pada awalnya berkembang sebagai hidangan rumahan yang disajikan untuk keluarga maupun tamu.
Seiring waktu, tradisi dari dapur rumah tersebut berkembang menjadi produk kuliner yang semakin dikenal masyarakat.
3. Hadir dalam berbagai momen

Ilustrasi Pasar Ramadan (IDNTimes/Wira Sanjiwani) Bagi masyarakat Pontianak, Bingke memiliki tempat tersendiri dalam berbagai acara. Dalam pesta pernikahan, kue ini kerap disajikan bersama hidangan lainnya sebagai bagian dari tradisi yang telah berlangsung lama.
Kehadirannya juga mudah ditemui saat hari raya maupun acara keluarga. Bingke menjadi salah satu sajian yang sering disiapkan untuk tamu di rumah.
Bahkan dalam tradisi bertamu, membawa Bingke bisa menjadi pilihan sederhana untuk buah tangan. Saat Lebaran, kue ini kembali hadir. Begitu pula ketika ingin berbagi dengan tetangga atau kerabat.
Kini, Bingke hadir dengan berbagai varian rasa, mulai dari keju, cokelat, pandan, durian, hingga varian dengan cita rasa kekinian. Meski demikian, bahan dasar Bingke tetap tidak banyak berubah, yakni tepung terigu, santan, telur, dan gula.
Teknik pembuatannya pun masih mempertahankan cara lama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari dapur rumah hingga toko oleh-oleh, Bingke terus bertahan sebagai salah satu kuliner yang melekat dengan identitas Pontianak. Kehadirannya mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi banyak masyarakat, Bingke menjadi bagian dari tradisi dan kenangan yang sulit dipisahkan dari kota tersebut.





















