Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Diare Akut Kalbar Naik di Tengah Kemarau, Air Bersih Jadi Sorotan

Kota Pontianak
3 min read
Diare Akut Kalbar Naik di Tengah Kemarau, Air Bersih Jadi Sorotan
PMI salurkan air bersih ke warga. (IDN Times/istimewa).
  • Kasus diare akut di RSUD dr Soedarso Pontianak mencapai sekitar 138 kasus selama enam pekan dan mulai meningkat pada minggu ke-36 hingga ke-37 di tengah kemarau panjang.
  • Gangguan pasokan air bersih dan keluhan air PDAM terasa asin memicu kekhawatiran, tetapi kaitannya dengan diare masih perlu dibuktikan lewat pemeriksaan kualitas air serta kajian epidemiologis.
  • RSUD mencatat 66 kasus ISPA dan 127 pneumonia tanpa lonjakan signifikan; kapasitas tempat tidur masih aman, sementara kelompok rentan diminta menjaga kebersihan makanan, minuman, dan air.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pontianak, IDN Times - Kasus diare akut mulai menunjukkan tren peningkatan di Kalimantan Barat (Kalbar) di tengah kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air bersih.

Kondisi ini menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang banyak mengalami gangguan pencernaan tersebut.

Di RSUD dr Soedarso Pontianak, tercatat ada sekitar 138 kasus diare akut selama enam pekan pemantauan, mulai minggu ke-32 pada 9 Agustus hingga minggu ke-37. Kasus mulai menunjukkan kecenderungan meningkat pada minggu ke-36 hingga minggu ke-37.

Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, mengatakan peningkatan kasus diare perlu diwaspadai seiring terganggunya pasokan air bersih akibat kemarau panjang.

“Ini harus menjadi kewaspadaan kasus diare akut. Karena asap dan kemarau panjang memicu kelangkaan pasokan air bersih pada masyarakat, dan air yang terkontaminasi bisa berujung pada lonjakan kasus diare akut,” ujarnya, Sabtu (26/9/2026).

  1. 1. Air asin timbulkan kekhawatiran

    a7ad2155-6cc5-4430-a0ed-8b500fbda095.jpeg
    Direktur RSUD Soedarso Pontianak, drg Hary Agung Tjahyadi. (IDN Times/Teri).

    Kondisi air bersih menjadi sorotan masyarakat di tengah kemarau. Sejumlah warga juga mengeluhkan air yang digunakan sehari-hari, termasuk air jaringan PDAM, mengalami perubahan kualitas dan terasa asin. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.

    Meski demikian, dugaan keterkaitan antara air yang terasa asin dengan meningkatnya kasus diare masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan kualitas air dan kajian epidemiologis. Belum dapat dipastikan bahwa air tersebut menjadi penyebab langsung kasus diare yang ditangani rumah sakit.

    Hary menjelaskan, persoalan kesehatan masyarakat selama kemarau panjang tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara akibat kabut asap karhutla. Gangguan akses terhadap air bersih juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lain.

    “Persoalan kesehatan masyarakat saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya, tetapi juga terganggunya akses terhadap air bersih,” katanya.

  2. 2. 127 warga alami pneumonia

    ilustrasi pneumonia anak (freepik.com/jcomp)
    ilustrasi pneumonia anak (freepik.com/jcomp)

    Sementara itu, kasus ISPA dan pneumonia yang dipantau RSUD dr Soedarso dalam periode yang sama belum menunjukkan lonjakan signifikan. Tercatat 66 kasus ISPA dengan jumlah mingguan berkisar dua hingga 19 kasus.

    Untuk pneumonia, rumah sakit mencatat sekitar 127 kasus, dengan jumlah kasus berkisar 17 hingga 25 kasus setiap pekan.

    Hary mengatakan tidak seluruh kasus pneumonia dapat dipastikan berkaitan langsung dengan paparan polutan akibat karhutla. Namun, kualitas udara yang tidak sehat tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

  3. 3. RSUD Soedarso Pontianak pastikan tempat tidur aman

    IMG_5379.jpeg
    Suasana jalan protokol saat kabut asap. (IDN Times/Teri).

    Berbeda dengan ISPA dan pneumonia yang belum menunjukkan lonjakan signifikan, tren kasus diare akut justru mulai meningkat pada dua pekan terakhir periode pemantauan.

    RSUD dr Soedarso saat ini masih mampu menangani pasien dengan kapasitas tempat tidur yang tersedia. Belum diperlukan penambahan tempat tidur khusus untuk menangani dampak karhutla maupun kemarau panjang.

    Hary mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk meningkatkan kewaspadaan selama kondisi lingkungan belum membaik.

    “Selain bayi dan balita, kelompok yang perlu mendapat perhatian adalah ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta,” terangnya.

    Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan makanan dan minuman serta memastikan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari aman. Penggunaan air yang kualitasnya diragukan sebaiknya dihindari sampai ada kepastian mengenai kelayakannya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More