Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Picu Krisis Air, PMI Kalbar Distribusi 1,8 Juta Liter ke Warga
Kepala Markas PMI Kalbar, Very Budiman. (IDN Times/Teri).
  • PMI Kalbar menghadapi kemarau dengan mendistribusikan sekitar 1,8 juta liter air bersih ke 14 kabupaten/kota, sekaligus menangani karhutla di hampir 50 lokasi.
  • Menurunnya debit air pegunungan dan meningkatnya permintaan mendorong PMI mencari sumber alternatif melalui pengolahan air Sungai Landak, sambil memantau risiko intrusi air asin.
  • Distribusi air dilakukan lewat sistem permintaan satu pintu berdasarkan urutan masuk, dengan prioritas bagi penyintas serta enam hingga tujuh rumah sakit di Pontianak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pontianak, IDN Times - Di tengah kemarau yang membuat sumber air bersih kian terbatas, para relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalimantan Barat (Kalbar) tak hanya berjibaku mendistribusikan air. Mereka juga harus mencari dan memastikan sumber air baku tetap tersedia agar pasokan bagi masyarakat tidak terputus.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi PMI Kalbar. Sejak awal tahun, relawan telah bergerak menangani dampak kemarau, termasuk mendistribusikan air bersih dan melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah lokasi.

“Awalnya kita menangani karhutla di awal-awal Januari, distribusi air bersih juga di awal tahun itu, terhenti lalu kita lanjut di bulan Juni dan juga pemadaman hampir di 50 lokasi,” kata Kepala Markas PMI Kalbar, Budiman Very, Sabtu (3/10/2026).

1. Sudah distribusikan 1,8 juta liter air bersih di Kalbar

PMI salurkan air bersih ke warga. (IDN Times/istimewa).

Namun, kebutuhan air bersih terus meningkat. PMI pun memilih tetap melanjutkan distribusi dengan pendekatan kemanusiaan. Hingga kini, sekitar 1,8 juta liter air telah didistribusikan PMI ke 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat.

Di Pontianak, persoalan semakin terasa ketika debit air dari sumber-sumber pegunungan menurun. Pada saat yang sama, permintaan masyarakat meningkat. Antrean untuk mendapatkan air pun semakin panjang.

“Debit air pegunungan selain kecil juga sudah ramai karena peningkatan frekuensi permintaan masyarakat. Jadi, antrean di Anjungan itu semakin banyak,” ujar Budiman.

Kondisi tersebut membuat relawan berpikir lebih jauh. Mereka tak ingin hanya mengandalkan sumber air yang sewaktu-waktu bisa menipis. Jika sumber yang selama ini digunakan habis, distribusi air bersih bisa ikut terganggu.

2. Berjibaku cari sumber air baku yang tak terintrusi air laut

PMI Kalbar sulap air danau jadi air bersih. (IDN Times/istimewa).

Dari situlah PMI bersama sejumlah mitra mencari alternatif. Mereka mengembangkan water treatment plant, sebuah fasilitas pengolahan air yang memungkinkan air baku sungai diolah menjadi air yang layak dikonsumsi.

Salah satu sumber yang digunakan adalah Sungai Landak. Relawan harus memastikan air sungai yang diambil masih memungkinkan untuk diolah. Salah satu pertimbangannya adalah ancaman intrusi air asin yang dapat mengganggu kualitas air baku.

Budiman mengatakan lokasi produksi PMI berada di bagian atas dari wilayah Biung yang sebelumnya sempat disurvei Pemerintah Kota Pontianak. Dengan posisi tersebut, intrusi air asin diperkirakan masih cukup jauh dari lokasi pengambilan air baku.

“Air bakunya kita di Sungai Landak. Kita di atasnya lagi, jadi intrusi air asinnya masih jauh,” katanya.

Jika kondisi kemarau berlangsung hingga akhir Oktober seperti perkiraan, PMI berharap sumber air baku tersebut masih dapat digunakan lebih lama.

“Kalau memang kita perkirakan sampai akhir Oktober kemarau, kemungkinan intrusi air asin itu tidak sampai ke wilayah yang kita produksi. Jadi operasional untuk kami produksinya semakin panjang,” jelas Budiman.

3. Prioritaskan distribusi air bersih di 6 rumah sakit

Wagub Krisantus tinjau filterisasi air dari PMI. (IDN Times/istimewa).

Bagi para relawan, mencari sumber air baku bukan sekadar persoalan teknis. Air yang berhasil diolah akan kembali dibawa ke masyarakat yang membutuhkan.

PMI menerapkan sistem permintaan melalui satu pintu. Warga yang membutuhkan air bersih dapat mengajukan permintaan melalui call center PMI. Permintaan kemudian dilayani berdasarkan urutan masuk.

“Siapa yang minta dulu, kita kasih duluan. Tidak ada sistem nyerobot, kenal, tidak,” tegas Budiman.

Meski demikian, PMI tetap memberikan prioritas kepada kelompok yang masuk kategori penyintas dan fasilitas pelayanan publik yang membutuhkan pasokan air secara mendesak.

Rumah sakit, misalnya, menjadi salah satu prioritas distribusi. Di Kota Pontianak, PMI secara rutin memasok air bersih ke sekitar enam hingga tujuh rumah sakit.

Curated For You

Editorial Team

Related Article