- Ajak anak berbicara. Dengarkan ceritanya dengan tenang dan hindari menyalahkan atau menghakimi.
- Tunjukkan dukungan. Yakinkan anak bahwa mereka tidak bersalah karena menjadi korban perundungan.
- Hubungi pihak sekolah. Jika ada dugaan bullying, diskusikan situasi tersebut dengan guru atau pihak sekolah untuk mencari penyelesaian.
- Cari bantuan profesional. Konsultasikan kondisi anak kepada psikolog jika tekanan emosional berlangsung atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Orang Tua Perlu Peka! 5 Tanda Anak Mengalami Perundungan di Sekolah

- Orang tua perlu mewaspadai perubahan drastis pada suasana hati, pola tidur, kelelahan, serta kecemasan atau penolakan anak untuk berangkat ke sekolah.
- Luka atau memar tanpa penjelasan, keluhan sakit kepala atau perut, penurunan nilai, dan sulit berkonsentrasi dapat terkait tekanan perundungan, meski perlu ditelusuri lebih lanjut.
- Saat melihat tanda-tanda tersebut, orang tua dianjurkan mendengarkan tanpa menghakimi, memberi dukungan, berdiskusi dengan sekolah, dan mencari bantuan psikolog bila tekanan mengganggu aktivitas anak.
Orang tua tentu tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam, terutama ketika mereka berada di sekolah. Kondisi ini membuat anak berisiko mengalami perundungan atau bullying tanpa sepengetahuan keluarga.
Anak yang menjadi korban bullying terkadang kesulitan menceritakan pengalaman mereka. Karena itu, orang tua perlu mengenali perubahan perilaku, kondisi fisik, hingga kebiasaan anak yang mungkin menunjukkan adanya masalah.
Meski tidak selalu menandakan bullying, sejumlah perubahan berikut perlu diperhatikan agar orang tua bisa segera memberikan dukungan yang dibutuhkan anak.
1. Mood anak berubah drastis

ilustrasi orang mendapat perundungan (pexels.com/Mikhail Nilov) Perubahan emosi menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Anak yang biasanya ceria bisa mendadak lebih murung, mudah tersinggung, atau sering marah tanpa alasan yang jelas.
Menurut Lena Suarez-Angelino, seorang pekerja sosial klinis (clinical social worker), anak yang mengalami bullying dapat memendam kemarahan dan stres sehingga emosinya menjadi tidak stabil.
Jika perubahan suasana hati berlangsung terus-menerus, orang tua sebaiknya mengajak anak berbicara dengan tenang untuk mengetahui penyebabnya.
2. Sulit tidur dan mudah lelah

ilustrasi bullying, perundungan (unsplash.com/mohamad azaam) Tekanan akibat bullying dapat memengaruhi kenyamanan dan pola tidur anak. Mereka mungkin kesulitan tidur pada malam hari, sering terbangun, atau terlihat kelelahan saat bangun pagi.
Bailey Lindgren dari National Bully Prevention Center menyebutkan bahwa kesulitan tidur dan kondisi lesu dapat menjadi tanda anak sedang menghadapi tekanan akibat perundungan.
Orang tua perlu memperhatikan perubahan kebiasaan tidur, terutama jika anak juga terlihat cemas atau enggan berangkat ke sekolah.
3. Luka fisik yang mencurigakan

Ilustrasi perundungan. IDN Times/Mardya Shakti Bullying tidak hanya berbentuk ejekan dan pengucilan, tetapi juga bisa berupa kekerasan fisik. Orang tua perlu waspada jika anak sering pulang dengan luka atau memar yang tidak dapat dijelaskan.
Selain cedera fisik, anak yang mengalami tekanan emosional juga bisa mengeluhkan sakit kepala atau sakit perut.
Menurut Sherri Gordon, advokat pencegahan bullying, stres akibat perundungan dapat memicu keluhan kesehatan. Meski demikian, gejala tersebut juga bisa disebabkan kondisi lain sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut.
4. Prestasi akademik menurun

ilustrasi anak perempuan yang menolak pembullyan atau perundungan (pexels.com/RDNE Stock project) Perubahan prestasi belajar juga patut menjadi perhatian. Anak yang mengalami bullying mungkin kesulitan berkonsentrasi, kehilangan motivasi belajar, atau mengalami penurunan nilai secara tiba-tiba.
Lena Suarez-Angelino menjelaskan bahwa tekanan akibat perundungan dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran dan mencapai prestasi akademik.
Jika kondisi ini terjadi, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahi atau menyalahkan anak. Cari tahu terlebih dahulu apakah ada masalah di sekolah yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
5. Enggan berteman dan menutup diri

Ilustrasi perundungan (Sumber: Freepik.com Anak yang mengalami bullying bisa kehilangan kepercayaan diri dan merasa takut menjalin pertemanan baru. Mereka mungkin mulai menghindari teman sebaya, lebih sering menyendiri, atau enggan mengikuti kegiatan sosial yang sebelumnya disukai.
Juliana LaBianca, seorang editor dan ahli strategi SEO, menyebutkan bahwa korban bullying dapat menarik diri dari lingkungan pertemanan dan mengalami kesulitan bergaul.
Jika anak menunjukkan perubahan tersebut, orang tua perlu menciptakan suasana yang aman agar mereka merasa nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Bullying dapat memengaruhi kondisi emosional, kesehatan, dan proses belajar anak. Karena itu, orang tua perlu menanggapi perubahan perilaku secara serius tanpa terburu-buru menyimpulkan bahwa anak mengalami perundungan.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Mengenali tanda-tanda bullying sejak dini dapat membantu orang tua mengambil langkah yang tepat. Yang terpenting, bangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita dan tidak menghadapi masalahnya sendirian.






















