Pemuda Pontianak Bikin Nozzle Gambut, Inovasi Padamkan Api di Dalam Tanah

- Shiddiq Adies Maulana, pemuda Pontianak berusia 23 tahun, menciptakan nozzle gambut untuk menyalurkan air ke dalam tanah dan menangani bara karhutla yang tak terlihat di permukaan.
- Nozzle sepanjang sekitar satu meter ditusukkan ke titik berasap dan dialiri air selama 15 menit. Alat ini membantu pembasahan, tetapi tidak memadai untuk api hingga kedalaman 8–10 meter.
- Inovasi ini dibuat karena nozzle pasaran mahal dan mudah patah. Biaya prototipe sekitar Rp600 ribu hingga Rp1 juta, dengan rencana produksi lebih banyak setelah ada permintaan 20 unit.
Pontianak, IDN Times - Keterbatasan peralatan tak menyurutkan langkah anak muda di Pontianak untuk berinovasi dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut.
Adalah Shiddiq Adies Maulana, pemuda berusia 23 tahun yang sejak 2017 telah bergabung dalam tim pemadam kebakaran di Pontianak.
Berawal dari kebutuhan di lapangan, api karhutla tak mudah padam karena berada di tanah gambut. Shiddiq berinisiatif untuk membuat sebuah nozzle khusus yakni nozzle suntik atau nozzle gambut, untuk memadamkan api dari dalam tanah gambut, dirancang untuk membantu mengalirkan air langsung ke bagian dalam tanah.
1. Awal mula inisiatif buat nozzle gambut

Nozzle gambut, inovasi alat untuk padamkan api dalam tanah. (IDN Times/Teri). Bagi Shiddiq, ide tersebut muncul dari persoalan yang kerap dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman karhutla. Api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan karena dapat menjalar dan membakar lapisan gambut di bawah tanah.
“Awalnya karena kebutuhan. Pak Azrul juga pernah bertanya bagaimana caranya kita bisa melakukan pemadaman sampai ke bagian dalam lahan,” ujar Shiddiq, Kamis (1/10/2026).
Ia kemudian menyarankan penggunaan nozzle suntik. Namun, nozzle yang tersedia di pasaran menurutnya beberapa kali mengalami kerusakan karena patah saat digunakan. Dari persoalan tersebut, muncul ide untuk membuat nozzle sendiri.
“Kemudian Pak Surul bertanya, 'Bisa buat?' Saya bilang akan saya usahakan dan coba. Akhirnya jadilah seperti ini,” katanya.
2. Efektif untuk padamkan karhutla di tanah gambut

Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim). Nozzle yang dibuat Shiddiq memiliki panjang sekitar satu meter. Alat tersebut digunakan dengan cara ditusukkan ke dalam tanah pada titik yang masih mengeluarkan asap. Setelah itu, air dialirkan selama kurang lebih 15 menit sebelum nozzle dipindahkan ke titik lainnya.
Menurut Shiddiq, metode tersebut memungkinkan air dialirkan langsung ke bagian dalam tanah, sehingga membantu proses pembasahan pada titik yang berpotensi masih menyimpan bara.
“Kalau untuk nozzle ini, jangkauannya hanya sekitar satu meter ke dalam tanah. Kalau api sudah masuk hingga kedalaman delapan atau 10 meter, tentu masih kurang,” jelasnya.
Karena itu, Shiddiq menilai nozzle tersebut merupakan salah satu alat bantu dalam penanganan karhutla, bukan satu-satunya solusi untuk memadamkan kebakaran gambut.
“Memang kalau untuk benar-benar efektif memadamkan kebakaran lahan gambut, tetap hujan yang paling mampu membantu memadamkannya,” ujarnya.
Meski demikian, inovasi tersebut dinilai dapat membantu petugas ketika menemukan titik-titik tertentu yang masih mengeluarkan asap setelah api di permukaan berhasil dikendalikan.
3. Pernah beli, harganya mahal dan cepat patah

Shiddiq, Pemuda di Pontianak buat inovasi alat padamkan api dalam tanah. (IDN Times/Teri). Shiddiq mengatakan, pembuatan nozzle tersebut juga tidak terlepas dari kebutuhan rekan-rekannya di lapangan, termasuk saat melakukan penanganan karhutla.
Menurutnya, alat serupa sebenarnya sudah tersedia dan dapat dibeli. Namun, harganya relatif mahal dan beberapa nozzle yang pernah digunakan justru mudah mengalami kerusakan.
“Kebutuhan dan permintaan kawan-kawan PMI ketika melakukan penanganan karhutla. Mereka membutuhkan alat seperti ini. Karena harga alat yang sudah jadi lumayan mahal, kita berusaha meminimalkan biaya dengan membuatnya sendiri,” tuturnya.
Untuk membuat satu unit nozzle, Shiddiq membutuhkan waktu sekitar setengah hari. Proses pembuatannya pun tidak sepenuhnya mudah. Salah satu kendala adalah mendapatkan komponen kopling yang harus dipesan secara daring dengan harga yang cukup mahal.
Selain itu, bagian pipa yang melengkung juga membutuhkan proses pengerolan agar bentuknya rapi. Shiddiq juga harus memperhitungkan jumlah serta jarak lubang pada bagian bawah nozzle agar air dapat keluar sesuai kebutuhan.
“Kesulitannya pertama untuk kopling. Komponen ini harus dipesan online dan harga satuannya juga lumayan,” katanya.
4. Rencananya akan buat dalam jumlah banyak

PMI Kalbar kenalkan alat inovasi baru untuk padamkan api di tanah gambut. (IDN Times/Teri). Untuk satu unit nozzle yang dibuat menggunakan sebagian material yang sudah tersedia, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp600 ribu. Jika seluruh material harus dibeli baru, ditambah biaya pengerolan, biaya pembuatannya diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp1 juta.
Meski demikian, Shiddiq menyebut konstruksi nozzle yang dibuatnya cukup kuat. Nozzle yang kini ditunjukkan tersebut masih berupa prototipe dan belum sepenuhnya dirapikan.
Ke depan, rencananya akan dibuat kembali dalam jumlah lebih banyak. Bahkan, permintaan untuk membuat sekitar 20 unit telah disampaikan.
Selain model nozzle yang dibuat seperti saat ini, Shiddiq juga telah membuat jenis nozzle lain yang diperuntukkan bagi lahan dengan bentuk menyerupai huruf L atau melengkung.
Untuk saat ini, Shiddiq menyebut telah memiliki enam unit nozzle gambut. Lima unit merupakan alat yang sudah dimiliki sebelumnya, sedangkan satu unit merupakan nozzle yang baru dibuat.
5. Otodidak, bongkar pasang barang besi bekas

Nozzle gambut, inovasi pemuda Pontianak untuk padamkan api dalam tanah. (IDN Times/Teri). Kemampuan Shiddiq merakit peralatan tersebut tidak diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan khusus. Ia mengaku selama ini belajar secara otodidak dengan mencoba membuat dan memperbaiki berbagai peralatan.
“Kalau belajar merakit secara khusus sebenarnya tidak ada. Saya hanya mencoba-coba karena di rumah memang sering iseng membuat atau merakit sesuatu,” ungkapnya.
Pengalamannya memperbaiki mesin juga diperoleh dari aktivitasnya di dunia pemadam kebakaran. Shiddiq mengaku pernah ikut mendirikan tim pemadam dengan modal terbatas.
Mereka bahkan pernah menerima bantuan mesin-mesin bekas yang kondisinya sudah rusak. Mesin-mesin tersebut kemudian diperbaiki agar kembali dapat digunakan.
“Saya juga ikut mendirikan pemadam dengan modal yang minim. Kami pernah mendapatkan bantuan mesin-mesin bekas yang kondisinya sudah rusak, kemudian saya perbaiki semuanya,” ujarnya.
Kecintaannya terhadap dunia pemadam kebakaran sendiri telah dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah. Shiddiq bergabung dengan tim damkar yakni sejak tahun 2017, kini tergabung dalam tim Damkar Sepakat.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















