Saat Hutan Terbakar, Ini Perjuangan Satwa Kalimantan Bertahan Hidup

- Kebakaran hutan Kalimantan menghancurkan habitat, makanan, dan jalur pergerakan satwa, terutama orangutan yang bergantung pada pepohonan untuk berlindung, berkembang biak, dan mencari makan.
- Satwa yang menghindari api dapat masuk ke perkebunan atau permukiman, menghadapi risiko kelaparan, cedera, konflik manusia, paparan asap, dehidrasi, serta ancaman api gambut yang membara lama.
- Pada Agustus 2026, BKSDA Kalimantan Barat dan YIARI mengevakuasi orangutan lemah di Ketapang; penanganan satwa terdampak perlu ditentukan petugas konservasi.
Kebakaran hutan di Kalimantan tidak hanya menghanguskan pepohonan, tetapi juga mengancam satwa liar yang kehilangan habitat, sumber makanan, dan jalur pergerakan.
Saat api mendekati habitat, sebagian satwa berusaha berpindah ke kawasan yang belum terbakar. Namun, pilihan tersebut semakin terbatas jika hutan telah terfragmentasi oleh perkebunan, jalan, atau lahan terbuka.
Orangutan menjadi salah satu satwa yang menghadapi ancaman serius. Ketergantungannya pada pepohonan membuat kebakaran dapat memutus jalur pergerakan, menghilangkan sumber makanan, dan merusak lokasi untuk berlindung serta berkembang biak.
Satwa yang berhasil menjauh dari api juga belum tentu aman. Asap dapat mengganggu aktivitas dan membuat satwa mengurangi pergerakan. Penelitian terhadap orangutan Kalimantan menunjukkan paparan asap berkaitan dengan perubahan aktivitas dan penggunaan energi.
1. Sebagian satwa mencari kawasan hutan yang masih aman

Proses evakuasi satwa orang utan yang berkeliaran di jalanan tambang Kutai Timur. Foto BKSDA Kaltim Ketika habitat tidak lagi menyediakan makanan dan tempat berlindung yang cukup, satwa dapat keluar dari hutan dan masuk ke perkebunan atau mendekati permukiman.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kelaparan, cedera, hingga konflik dengan manusia. Karena itu, kemunculan satwa liar di sekitar permukiman setelah kebakaran tidak selalu berarti mereka mengganggu. Bisa jadi mereka sedang mencari tempat aman setelah kehilangan habitat.
Tidak semua satwa juga langsung meninggalkan kawasan terbakar. Sebagian dapat bertahan di bagian habitat yang belum terbakar. Namun, berkurangnya makanan dan tempat berlindung tetap menjadi ancaman.
Risiko semakin besar di kawasan gambut. Api dapat terus membara di bawah permukaan dan menghasilkan asap dalam waktu lama. Kawasan yang terlihat sudah aman belum tentu benar-benar terbebas dari dampak kebakaran.
2. Sebagian hewan membutuhkan evakuasi

Tiga orangutan hasil rehabilitasi akhirnya kembali menghirup udara bebas setelah dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan hutan Kalimantan Timur, Rabu (24/6/2026). BKSDA Kaltim Satwa yang terdampak kebakaran dapat ditemukan dalam kondisi lemah dan membutuhkan pertolongan.
Pada Agustus 2026, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi seekor orangutan jantan dewasa yang ditemukan lemah di kebun sawit masyarakat di Ketapang.
Di sekitar lokasi terjadi kebakaran dan terdapat asap, sementara sumber air tidak ditemukan. Pemeriksaan awal menduga kondisi orangutan berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan cairan. Satwa tersebut kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Namun, tidak semua satwa yang keluar dari hutan harus langsung dievakuasi. Penanganan perlu dilakukan oleh petugas atau tim konservasi untuk menentukan apakah satwa perlu diselamatkan, dipantau, atau dibiarkan mencari habitat yang sesuai.
Masyarakat yang menemukan satwa liar setelah kebakaran sebaiknya menjaga jarak dan melaporkannya kepada petugas terkait.
3. kebakaran menghanguskan rumah satwa

Tiga individu orangutan kalimantan (Pongo Pygmaeus) dilepasliarkan ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur, Selasa (23/6/2026). Foto istimewa Saat hutan terbakar, satwa liar tidak memiliki satu tempat tujuan. Sebagian berpindah ke kawasan hutan yang masih aman, sementara lainnya terdorong masuk ke perkebunan atau permukiman.
Bahkan satwa yang berhasil menghindari api tetap menghadapi ancaman asap, kekurangan makanan, dehidrasi, dan rusaknya habitat.
Karena itu, kebakaran hutan bukan sekadar persoalan hilangnya tutupan lahan. Bagi satwa liar, hutan merupakan tempat mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan bergerak.
Ketika habitat terbakar dan koridor hutan terputus, satwa kehilangan ruang untuk menjalani kehidupan alaminya. Perlindungan hutan, pencegahan kebakaran, dan penyediaan koridor habitat menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan satwa Kalimantan.






















