5 Pohon Raksasa Kalimantan yang Jadi Korban Ancaman Karhutla

- Karhutla di Kalimantan dipicu kondisi kering, termasuk El Nino, serta aktivitas manusia; dampaknya mengancam lahan gambut, habitat, flora, dan fauna.
- Keruing, kamper, meranti, dan ulin bernilai ekologis serta ekonomi tinggi, tetapi rentan terhadap kebakaran, kekeringan, perubahan habitat, eksploitasi, dan penebangan tidak bertanggung jawab.
- Kelompok Dipterocarpaceae menjadi penyusun penting hutan Kalimantan; pertumbuhannya lambat sehingga kerusakan karhutla berdampak panjang dan pemulihan memerlukan perlindungan berkelanjutan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius bagi ekosistem Kalimantan. Kondisi kering yang dipengaruhi faktor iklim, termasuk fenomena El Nino, membuat vegetasi dan lahan gambut lebih mudah terbakar.
Namun, faktor alam bukan satu-satunya penyebab. Aktivitas manusia juga dapat memicu munculnya titik api hingga kebakaran meluas.
Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan lahan. Karhutla juga mengancam habitat flora dan fauna, termasuk sejumlah pohon khas Kalimantan yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi tinggi.
1. Pohon keruing

Pohon keruing (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT) Keruing (Dipterocarpus spp.) merupakan salah satu kelompok pohon dari keluarga Dipterocarpaceae yang banyak ditemukan di hutan hujan tropis Kalimantan.
Pohon ini dikenal memiliki batang tinggi dan kayu yang kuat sehingga banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi dan pertukangan.
Salah satu jenisnya, Dipterocarpus tempehes, merupakan pohon endemik Kalimantan yang populasinya terus menghadapi tekanan akibat eksploitasi dan perubahan habitat.
Keruing juga memiliki peran penting bagi ekosistem hutan. Pertumbuhannya yang relatif lambat membuat pemulihan populasinya membutuhkan waktu panjang ketika mengalami kerusakan akibat kebakaran.
2. Pohon kamper

Kanopi pohon kamper (commons.wikimedia.org/Patrice78500) Pohon kamper (Dryobalanops spp.) juga menjadi bagian penting dari hutan dataran rendah Sumatra dan Kalimantan.
Selain menghasilkan kayu, pohon ini dikenal dapat menghasilkan minyak dan kristal yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk pengharum dan aromaterapi.
Pohon kamper dapat tumbuh hingga puluhan meter dengan batang berdiameter besar. Daunnya juga memiliki aroma khas ketika diremas.
Kebakaran hutan dan kekeringan dapat mengancam keberadaan pohon ini, terutama ketika api merambat hingga ke bagian bawah permukaan tanah.
3. Pohon meranti

ilustrasi pohon meranti (freepik.com/YusufSangdes) Meranti (Shorea spp.) merupakan salah satu pohon penting di hutan hujan tropis Kalimantan. Ratusan jenisnya diketahui tersebar di Pulau Kalimantan, termasuk sejumlah spesies endemik.
Pohon ini memiliki nilai ekonomi tinggi karena kayunya banyak dimanfaatkan. Beberapa kelompok meranti juga menghasilkan buah tengkawang yang dapat digunakan untuk bahan pangan hingga industri kosmetik.
Secara ekologis, meranti berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun, pertumbuhannya yang relatif lambat membuat pemulihan populasi meranti membutuhkan waktu lama setelah mengalami kerusakan akibat karhutla.
4. Pohon ulin

Pohon ulin terbesar di Taman Nasional Kutai (commons.wikimedia.org/Goengrafi) Ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan salah satu pohon yang identik dengan hutan Kalimantan. Kayunya dikenal sangat keras dan tahan terhadap pembusukan sehingga mendapat julukan ironwood atau kayu besi.
Ulin banyak dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, konstruksi, hingga pembuatan kapal. Pohon ini juga memiliki peran penting dalam ekosistem hutan sebagai bagian dari habitat berbagai jenis flora dan fauna.
Meski dikenal tahan terhadap kondisi ekstrem, ulin tetap menghadapi ancaman akibat kebakaran dan penebangan yang tidak bertanggung jawab.
Pohon ulin dewasa dapat tumbuh hingga sekitar 40 meter dengan diameter batang mencapai 2 meter.
5. Genus Dipterocarpaceae

Pohon genus Dipterocarpaceae (commons.wikimedia.org/Len Worthington) Keruing, kamper, dan meranti merupakan bagian dari kelompok Dipterocarpaceae yang menjadi salah satu penyusun utama hutan hujan tropis di Indonesia.
Kelompok pohon ini tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi juga berbagai produk nonkayu seperti resin, damar, minyak, dan kamper.
Dipterocarpaceae memiliki banyak jenis yang tersebar di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Kalimantan, kelompok ini menjadi bagian penting dari ekosistem hutan dataran rendah.
Karena sebagian jenisnya memiliki pertumbuhan lambat, kerusakan akibat karhutla dapat meninggalkan dampak jangka panjang. Pemulihan hutan pun tidak cukup hanya dengan menanam kembali, tetapi membutuhkan waktu dan upaya perlindungan agar pohon-pohon tersebut dapat tumbuh kembali.
Karhutla karena itu bukan hanya persoalan hilangnya tutupan hutan. Kebakaran juga dapat mengancam keberadaan pohon-pohon khas Kalimantan yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh dan membentuk kembali ekosistemnya.






















