Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anak 6 Tahun Meninggal di Kayong Utara, Diduga karena ISPA Kabut Asap

Kota Pontianak
2 min read
Anak 6 Tahun Meninggal di Kayong Utara, Diduga karena ISPA Kabut Asap
Anak 6 tahun meninggal diduga karena ISPA Kabut Asap. (IDN Times/istimewa).
  • Seorang anak berusia 6 tahun di Sukadana, Kayong Utara, meninggal setelah mengalami ISPA di tengah kabut asap yang semakin pekat.
  • Keluarga korban mendesak pemerintah mempercepat penanganan kabut asap dan menyediakan bantuan kesehatan, termasuk vitamin, bagi warga terdampak.
  • RS Jamaludin I Sukadana belum memastikan hubungan langsung kabut asap dengan kematian korban; warga meminta pengendalian sumber asap, layanan kesehatan, dan informasi kualitas udara terbuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pontianak, IDN Times - Kabut asap yang kian pekat di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, memicu kekhawatiran masyarakat. Di tengah memburuknya kondisi udara, seorang anak berusia 6 tahun di Sukadana dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kabar duka ini sekaligus memunculkan desakan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk melindungi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Paman korban, Miftahus, menyampaikan kesedihan sekaligus kekecewaannya atas situasi kabut asap yang terus memburuk.

  1. 1. Minta pemerintah beri perhatian

    713ffaa2-2987-408a-a399-dfbdcc341f51.jpeg
    Pemakaman korban meninggal akibat ISPA. (IDN Times/istimewa).

    Dia berharap pemerintah tidak menunggu jatuhnya lebih banyak korban sebelum menetapkan langkah penanganan yang lebih serius.

    “Nunggu korban berapa orang lagi, baru kau bilang ini bencana nasional. Asap kabutnya makin parah. Ini ponakan aku meninggal hari ini gara-gara infeksi paru-paru,” ungkap Miftahus, Jumat (16/10/2026).

    Ia juga meminta pemerintah memberikan perhatian terhadap kebutuhan kesehatan warga yang terdampak kabut asap, termasuk penyediaan bantuan kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat.

    “Minimal ada vitamin lah untuk masyarakat. Dan jangan sampai ada korban lagi. Ini ponakan aku sendiri kena korban meninggal gara-gara infeksi paru-paru,” lanjutnya.

  2. 2. Pihak rumah sakit belum buka suara

    IMG_9692.jpeg
    Paman korban, Miftahus. (IDN Times/istimewa).

    Bagi keluarga korban, peristiwa ini bukan sekadar kehilangan anggota keluarga, tetapi juga menjadi pengingat bahwa dampak kabut asap membutuhkan respons yang cepat dan terukur.

    Sementara itu, pihak RS Jamaludin I Sukadana belum memberikan keterangan terperinci mengenai kondisi medis korban. Pihak  rumah sakit menyatakan masih melakukan koordinasi internal.

    “Siap, nanti akan kami kabari setelah konfirmasi ke pelayanan ya,” ujar pihak Humas RS Jamaludin I Sukadana.

    Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit yang memastikan hubungan langsung antara paparan kabut asap dan kematian anak tersebut.

  3. 3. Harapan warga kepada pemerintah

    IMG_4308.jpeg
    Suasana karhutla di Kalbar. (IDN Times/adpim).

    Meski demikian, kondisi kabut asap yang dilaporkan semakin pekat di Kayong Utara dan wilayah sekitarnya menjadi perhatian warga. Paparan asap dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan.

    Masyarakat pun berharap pemerintah daerah dan pemerintah pusat tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi juga memperkuat upaya pengendalian sumber asap, menyediakan layanan kesehatan bagi warga terdampak, serta menyampaikan informasi kualitas udara secara terbuka.

    Tragedi yang menimpa keluarga Miftahus menjadi pengingat pentingnya langkah pencegahan dan perlindungan kesehatan di tengah krisis kabut asap.

    Warga berharap penanganan dilakukan segera agar dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat tidak semakin meluas.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More