Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kaltim Garap Proyek Metanol Rp41,2 Triliun, Olah 7,7 Juta Ton Batu Bara

Kota Samarinda
2 min read
Kaltim Garap Proyek Metanol Rp41,2 Triliun, Olah 7,7 Juta Ton Batu Bara
Sejumlah kapal tongkang melintasi Sungai Mahakam usai mengirim batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (18/1/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa
  • Kaltim menyiapkan proyek strategis nasional pabrik metanol di Bengalon, Kutai Timur, berkapasitas 2 juta ton per tahun untuk mengurangi ketergantungan impor.

  • Pabrik senilai Rp41,2 triliun di lahan 93 hektare akan mengolah 7,7 juta ton batu bara berkalori rendah per tahun melalui teknologi gasifikasi.

  • Proyek PT Bumi Etam Chemical diproyeksikan menghemat devisa Rp7,1 triliun per tahun, menyerap 5.000 pekerja saat konstruksi dan 800 pekerja tetap saat beroperasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Samarinda, IDN Times - Kalimantan Timur (Kaltim) bersiap memproduksi 2 juta ton metanol per tahun melalui proyek hilirisasi batu bara berkalori rendah di Kabupaten Kutai Timur. Proyek Strategis Nasional (PSN) ini dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor metanol.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto mengatakan, proyek gasifikasi batu bara tersebut dikembangkan secara terpadu di kawasan Batuta Chemical Industrial Park, Bengalon, Kutai Timur.

"Proyek hilirisasi ini dirancang untuk mengolah komoditas batu bara berkalori rendah menjadi produk metanol yang sangat dibutuhkan industri," kata Bambang dilaporkan Antara di Samarinda, Kamis (1/10/2026).

  1. 1. Investasi metanol di Kutai Timur

    Kadis Tambang.jpeg
    Kepala Dinas ESDM Kalimantan Timur Bambang Arwanto di Balikpapan, Rabu (10/6/2026). Foto istimewa

    Pembangunan pabrik metanol ini memanfaatkan lahan seluas 93 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp41,2 triliun. Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah 7,7 juta ton batu bara berkalori rendah, dengan nilai kalori 3.400 kilokalori per kilogram, setiap tahunnya.

    Melalui teknologi gasifikasi, batu bara yang selama ini memiliki nilai jual relatif rendah akan diolah menjadi metanol cair berkualitas standar internasional sesuai ketentuan Asosiasi Produsen dan Konsumen Metanol Internasional (IMPCA).

    Bambang menyebutkan, proyek ini berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun per tahun. Metanol yang dihasilkan nantinya dimanfaatkan sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) serta bahan baku industri petrokimia.

    Proyek hilirisasi tersebut dikembangkan PT Bumi Etam Chemical, konsorsium PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal.

  2. 2. Meningkatkan nila tambah komoditas batu bara

    Sejumlah kapal tongkang melintasi Sungai Mahakam usai mengirim batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (18/1/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa
    Sejumlah kapal tongkang melintasi Sungai Mahakam usai mengirim batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (18/1/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa

    Selain memberikan nilai tambah bagi komoditas batu bara, pembangunan pabrik ini juga diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja. Pada puncak masa konstruksi, proyek tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 5.000 tenaga kerja.

    Bambang menegaskan, Pemerintah Provinsi Kaltim meminta pengembang untuk memprioritaskan tenaga kerja lokal agar manfaat investasi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah.

    Saat memasuki tahap operasional penuh, pabrik metanol tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 800 tenaga kerja tetap.

  3. ilustrasi batu bara sebagai salah satu sumber daya hilirisasi (unsplash.com/Artyom Korshunov)
    ilustrasi batu bara sebagai salah satu sumber daya hilirisasi (unsplash.com/Artyom Korshunov)

    Pemprov Kaltim pun terus mengawal pengembangan investasi hilirisasi energi tersebut agar berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak berganda bagi perekonomian daerah.

    "Kami berkomitmen penuh memastikan proyek hilirisasi ini berjalan tuntas hingga tahap produksi demi mewujudkan kedaulatan energi nasional," ujar Bambang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More