Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

SMPN 2 Pontianak Kembali Tatap Muka usai 2 Bulan Kabut Asap

Kota Pontianak
4 min read
SMPN 2 Pontianak Kembali Tatap Muka usai 2 Bulan Kabut Asap
Pembelajaran tatap muka perdana usai 2 bulan daring. (IDN Times/Teri).
  • SMPN 2 Pontianak kembali menggelar pembelajaran tatap muka pada 28 September 2026 setelah hampir dua bulan PJJ akibat kabut asap karhutla, menyusul kondisi udara yang mulai membaik.
  • Sekolah menyesuaikan jadwal menjadi pukul 07.00–12.00 WIB dengan durasi pelajaran 30 menit, serta meniadakan olahraga, ekstrakurikuler, upacara, dan aktivitas luar ruangan.
  • Siswa diminta membawa masker, air putih, serta bekal dan kesehatannya dipantau. Siswa mengaku senang kembali belajar langsung karena lebih mudah memahami materi dan bertemu teman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pontianak, IDN Times - Aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 2 Pontianak kembali berlangsung di dalam kelas, pada Senin (28/9/2026), setelah hampir dua bulan siswa menjalani pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, kembalinya siswa ke sekolah belum berarti aktivitas pendidikan kembali sepenuhnya normal. Kondisi udara yang mulai membaik membuat pembelajaran tatap muka bisa kembali digelar.

Meski demikian, pihak sekolah masih menerapkan sejumlah pembatasan untuk mengurangi paparan siswa dan guru terhadap udara di luar ruangan.

  1. 1. Ada penyesuaian jam belajar

    23f34876-acfb-4f65-8b4e-6098a67ff119.jpeg
    Suasana sekolah usai daring 2 bulan. (IDN Times/Teri).

    Kepala SMP Negeri 2 Pontianak, Rahmat Putra Yudha, mengatakan keputusan kembali menggelar pembelajaran tatap muka dilakukan setelah melihat perkembangan kondisi udara dan berkoordinasi dengan sekolah-sekolah lain melalui Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS).

    “Hari ini kita memulai pembelajaran tatap muka. Memang sudah terlalu lama kemarin kita melakukan pembelajaran jarak jauh. Kondisi cuaca juga sudah mulai membaik, walaupun memang belum sepenuhnya baik,” kata Rahmat.

    Penyesuaian pertama terlihat dari durasi siswa berada di sekolah. Jam masuk yang sebelumnya pukul 06.50 WIB diundur menjadi pukul 07.00 WIB. Sementara kegiatan belajar mengajar berakhir lebih cepat, yakni pukul 12.00 WIB.

    Durasi setiap jam pelajaran juga dipangkas menjadi 30 menit. Menurut Rahmat, kebijakan tersebut bersifat sementara dan akan dievaluasi mengikuti perkembangan kondisi udara.

    “Ada perubahan sedikit karena melihat kondisi yang belum normal. Namun, harapannya dalam beberapa hari ke depan, jika kondisi cuaca kembali normal, kita juga akan kembali melaksanakan pembelajaran seperti biasa,” ujarnya.

  2. 2. Siswa adaptasi dengan aturan baru, kegiatan outdoor dibatasi

    f327e9b5-3d1f-4d6a-81f1-30a4b57b5ed7.jpeg
    Sekolah tatap muka digelar usai 2 bulan kabut asap. (IDN Times/Teri).

    Tak hanya waktu belajar yang dipangkas, aktivitas di luar kelas juga untuk sementara dihentikan. Pelajaran olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, hingga upacara sekolah ditiadakan. Siswa juga diminta tidak berlama-lama berada di luar ruang kelas.

    “Selama pembelajaran yang kita laksanakan mulai hari ini, kegiatan di luar kelas seperti olahraga dan kegiatan lainnya ditiadakan untuk sementara waktu,” jelasnya.

    Bahkan, sejak tiba di sekolah, siswa diarahkan langsung menuju ruang kelas. Sejumlah titik yang biasanya menjadi tempat siswa berkumpul sebelum pembelajaran turut dibatasi.

    “Anak-anak langsung masuk ke kelas. Termasuk titik-titik tempat mereka biasanya berkumpul sebelum masuk kelas, semuanya kita batasi hari ini,” kata Rahmat.

    Untuk mendukung kondisi kesehatan siswa, sekolah juga telah menyampaikan imbauan kepada orang tua melalui grup wali kelas.

    Siswa diminta membawa masker dan air putih dari rumah. Kondisi kesehatan siswa juga dipantau selama mengikuti pembelajaran tatap muka.

    “Anak-anak yang hari ini masuk sudah dalam keadaan siap menghadapi kondisi ini. Pembelajaran tetap terlaksana, sementara kesehatan juga kita pantau semaksimal mungkin agar tetap terjaga,” ujarnya.

    Rahmat menyebut pelaksanaan hari pertama pembelajaran tatap muka berjalan tanpa kendala berarti. Guru dan siswa mulai kembali beradaptasi dengan suasana sekolah setelah cukup lama menjalani pembelajaran dari rumah.

    Meski demikian, sekolah masih menunggu kondisi udara benar-benar kembali normal sebelum menghapus berbagai pembatasan.

    “Termasuk upacara, jadi aktivitas apa pun yang dilakukan di luar ruangan, termasuk upacara, hari ini kita tiadakan,” sebutnya.

    Untuk sementara, ruang kelas menjadi tempat utama berlangsungnya aktivitas sekolah.

  3. 3. Siswa senang kembali masuk sekolah setelah 2 bulan daring

    0e504f96-d525-4154-a8dc-d20370b2b6fa.jpeg
    Siswa senang sekolah akhirnya bisa tatap muka. (IDN Times/Teri).

    Senyum dan antusias tampak dari wajah siswa kelas 9, Syifa. Ia mengaku lebih senang belajar langsung di sekolah karena materi pelajaran dinilai lebih mudah dipahami ketika disampaikan secara tatap muka.

    “Senang bisa kembali sekolah karena ketemu teman. Belajarnya juga lebih paham karena kalau daring seringnya dikasih tugas. Interaksi secara langsung,” kata Syifa.

    Selama menjalani pembelajaran dari rumah, Syifa mengaku tidak menghadapi kendala berarti. Di luar jam belajar, waktunya diisi dengan bermain gim dan menonton.

    Namun, ada sejumlah penyesuaian setelah siswa kembali ke sekolah. Jam belajar untuk sementara diperpendek. Jika sebelumnya siswa biasanya pulang sekitar pukul 14.00 WIB, kini kegiatan pembelajaran berakhir sekitar pukul 12.00 WIB.

    Aktivitas di luar ruangan juga masih dibatasi mengingat kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya normal. Sebagai langkah menjaga kesehatan, Syifa mengaku membawa perlengkapan dari rumah sesuai arahan sekolah.

    “Bawa masker, air putih. Sekolah juga suruh bawa bekal dari rumah,” tukasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More