Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Banjir Samarinda Tak Lagi Berhari-hari? Pemprov Kaltim Gelontorkan Rp24 Miliar!

Evakuasi korban banjir Samarinda oleh Relawan Banda Balikpapan. (Dok. Pribadi Andreanus Pamuji)
Evakuasi korban banjir Samarinda oleh Relawan Banda Balikpapan. (Dok. Pribadi Andreanus Pamuji)

Samarinda, IDN Times - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengalokasikan anggaran sebesar Rp24 miliar pada tahun 2025 khusus untuk program normalisasi sungai di wilayah Samarinda.

"Anggaran ini merupakan bagian dari strategi menyeluruh Pemprov Kaltim dalam mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda ibu kota provinsi," ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda diberitakan Antara di Samarinda, Selasa (10/6/2025).

1. Proses penanganan banjir di Samarinda

Perabotan rumah tangga tak ketinggalan diungsikan agar tak rusak setelah banjir Samarinda mereda. (IDN Times/Istimewa)
Perabotan rumah tangga tak ketinggalan diungsikan agar tak rusak setelah banjir Samarinda mereda. (IDN Times/Istimewa)

Pernyataan tersebut disampaikan Firnanda saat menanggapi tuntutan dari massa Gerakan Kalimantan Timur Melawan Diam yang menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Kaltim. Ia menegaskan bahwa penanganan banjir di Samarinda memerlukan pendekatan lintas sektor dan waktu yang tidak singkat.

“Masih banyak keluhan dari masyarakat karena banjir belum tuntas. Tapi ini masalah kompleks, tidak bisa selesai dalam sekejap,” ujarnya.

Menurut Firnanda, penanganan banjir di Samarinda melibatkan kerja sama antara Pemprov Kaltim, Pemerintah Kota Samarinda, dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan Kementerian PUPR. Salah satu fokus utama saat ini adalah normalisasi Sungai Karang Mumus.

“Kami sudah menandatangani perjanjian kerja sama antara Pemprov, BWS, dan Pemkot Samarinda,” jelasnya.

2. Penyelesaian permasalahan sosial masyarakat

Prajurit TNI bersama warga menjaring sampah yang berada di aliran muara Sungai Karang Mumus di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (31/5/2025).  ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/agr
Prajurit TNI bersama warga menjaring sampah yang berada di aliran muara Sungai Karang Mumus di Samarinda, Kalimantan Timur, Sabtu (31/5/2025). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/agr

Dalam kesepakatan itu, Pemkot bertanggung jawab atas penyelesaian persoalan sosial, khususnya relokasi permukiman di bantaran sungai. Sementara, Pemprov fokus pada pengerjaan fisik normalisasi, dan BWS akan melanjutkan dengan pembangunan turap.

“Prosesnya sudah berjalan. Saat ini tinggal menyelesaikan beberapa titik yang masih terkendala masalah sosial,” tambah Firnanda.

Ia menjelaskan bahwa banjir di Samarinda tidak hanya disebabkan oleh luapan sungai, tetapi juga buruknya sistem drainase dan aliran air dari kawasan hulu, termasuk dari Sungai Karang Mumus hingga wilayah Benanga.

3. Pentingnya menjaga pelestarian lingkungan

Musim hujan di Samarinda
Musim hujan di Samarinda

Firnanda juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan, termasuk mengendalikan pembukaan lahan secara liar yang turut memperparah banjir.

Meski begitu, ia mengklaim ada kemajuan. “Kalau dibandingkan sebelum tahun 2019, durasi banjir kini jauh lebih singkat. Dulu bisa berhari-hari, sekarang hanya hitungan jam,” ungkapnya.

Sebagai contoh, ia menyebut kawasan Jalan Juanda yang kerap terdampak banjir akibat Sungai Karang Asam Kecil. Jika permukiman di sekitar sungai berhasil direlokasi dan normalisasi dilakukan secara tuntas, banjir di kawasan tersebut berpotensi teratasi.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us