Ilustrasi kekerasan terhadap anak (IDN Times/Sukma Shakti)
Data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ada 252 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga Juli 2020 di Kaltim. Meski demikian dari ratusan kasus ini korbannya tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki. Persisnya 41 laki-laki dan 237 perempuan. Ayunda pun tak menampik fakta tersebut. Pasalnya dari PHK saat pandemik COVID-19 ini kemudian berujung kepada kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam rumah tangga.
“Mulanya stres karena PHK, ditambah anak yang jenuh belajar dari rumah. Ketika kuota internet habis, anak merengek, sementara uang terbatas, ujungnya amarah naik kemudian terjadi kekerasan,” tegas koordinator Tim Psikolog Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Samarinda.