Generasi Z Banjarmasin Menyala dalam Gerakan Sosial di Era Digital

Banjarmasin, IDN Times - Gerakan pemuda dan mahasiswa untuk kepentingan sosial tetap kuat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Meskipun terpengaruh oleh gadget dan media sosial, kelompok generasi Z ini menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga semangat gerakan mahasiswa, terutama menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober.
Gerakan mahasiswa kembali bangkit pada waktu yang tepat, menghadapi isu sosial, politik, dan hukum yang mengancam masyarakat sipil. Sejak 2020, gerakan ini telah menjadi harapan bagi civil society.
1. Teknologi digital membantu menyuarakan pendapat

Ketua BEM FEBI UIN Antasari Banjarmasin Husein Fakhrezi menyatakan keprihatinannya terhadap masalah sosial yang belum terselesaikan. Menurutnya, sebagai pemuda, mereka perlu bersikap kritis dan aktif menyuarakan kebenaran.
Ia berpendapat bahwa kemajuan teknologi saat ini justru memudahkan dalam menggali informasi. Gerakan mahasiswa Gen Z menunjukkan dinamika menarik, dengan karakter yang lebih melek teknologi dan sosial. Mereka cenderung berpikir kritis, tidak mudah percaya, dan memiliki semangat kolaboratif yang kuat.
Namun, realitas menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa terbagi dalam berbagai elemen dengan latar belakang beragam, seperti organisasi kampus, komunitas independen, atau gerakan sosial. Perbedaan ideologi dan visi sering kali membuat gerakan ini terlihat terpecah. Meski demikian, ketika menghadapi isu besar yang merugikan masyarakat, berbagai elemen ini mampu bersatu. Contohnya, gerakan #ReformasiDikorupsi dan aksi menolak Omnibus Law berhasil menyatukan mahasiswa dari latar belakang berbeda, menunjukkan bahwa mereka dapat solid saat ada tujuan jelas yang menyentuh kepentingan masyarakat luas.
“Tren gerakan mahasiswa kini tidak hanya terbatas pada aksi massa di jalan, tetapi juga aktif memanfaatkan platform digital seperti media sosial, petisi online, dan ruang diskusi virtual. Media sosial menjadi alat utama untuk kampanye isu-isu seperti lingkungan, hak-hak sipil, ketidakadilan ekonomi, dan pelanggaran hukum,” ujar Husein.
2. Mahasiswa semakin kritis

Ia menambahkan, di era informasi ini, mahasiswa semakin kritis dalam menyoroti kebijakan publik dan masalah sosial. Mereka memanfaatkan teknologi untuk menyuarakan pendapat melalui konten digital, seperti video dan infografis, yang lebih mudah dipahami.
Namun, ketika situasi mendesak, seperti penolakan Omnibus Law atau revisi UU KPK, mahasiswa tetap memilih turun ke jalan sebagai bentuk protes.
“Kami memanfaatkan teknologi untuk menyuarakan pendapat melalui konten digital, tetapi tidak melupakan aksi di jalan sebagai bentuk solidaritas pemuda mahasiswa,” ungkapnya.
3. Cara mahasiswa merangkul dan menyuarakan

Menyatukan beragam elemen dalam gerakan mahasiswa bukanlah hal mudah, karena setiap organisasi memiliki dinamika dan pandangan yang berbeda. Salah satu cara efektif adalah dengan mengadakan forum terbuka di mana perwakilan tiap organisasi dapat berdiskusi dan menyusun konsensus.
Fokus pada isu-isu utama, seperti ancaman terhadap demokrasi atau pelanggaran HAM, dapat menyatukan misi mereka.
“Dalam era digital, platform diskusi di media sosial atau aplikasi pesan instan membantu memperkuat komunikasi lintas elemen. Dengan komunikasi yang intens, gerakan mahasiswa bisa lebih terkoordinasi dan tidak mudah dipecah oleh kepentingan tertentu,” kata Husein.
4. Pendekatan kepada mahasiswa yang cuek

Ia mengakui bahwa masih ada mahasiswa yang apatis terhadap isu politik dan sosial. Alasan mereka beragam, mulai dari fokus pada studi hingga ketakutan akan risiko hukum. Para aktivis biasanya mencoba mendekati rekan-rekan mereka yang apatis dengan cara yang persuasif.
Mengadakan kegiatan edukatif seperti seminar dan webinar dapat membangkitkan kesadaran. Memanfaatkan media sosial sebagai ruang diskusi juga efektif untuk menjangkau mereka yang enggan terlibat langsung.
Idealisme mahasiswa saat ini lebih terbuka dan kritis, menggunakan data dan fakta sebagai landasan dalam menyuarakan ketidakadilan. Gaya ini terlihat dalam cara mereka membangun narasi berbasis rasionalitas dan pemahaman mendalam terhadap isu. Mereka tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi atau alternatif kebijakan.
Isu yang diangkat pun luas, mencakup berbagai dimensi sosial seperti korupsi, hak asasi manusia, ketidakadilan ekonomi, hingga krisis lingkungan. “Gaya mereka berorientasi pada pemahaman menyeluruh, berupaya memahami permasalahan dari berbagai sudut pandang agar solusi yang diusulkan lebih relevan,” tambahnya.
5. Perubahan tren dari aksi massa ke aksi digital

Pergerakan mahasiswa kini mengalami perubahan tren, dengan semakin banyak aksi digital melalui media sosial. Ini terjadi karena era digital memudahkan akses informasi dan mengurangi risiko bentrokan saat aksi massa. Media sosial seperti Twitter, Instagram, dan TikTok menjadi alat efektif untuk menggalang dukungan publik dan membangun kesadaran sosial.
Meski tren ini meningkat, aksi massa di jalan tetap relevan sebagai cara kuat untuk menunjukkan keberanian kolektif. Aksi digital berpengaruh dalam membangun opini publik, tetapi aksi massa tetap memiliki daya tarik, terutama untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.
Aksi massa dianggap efektif untuk mengekspresikan kepedulian. Kehadiran fisik dalam aksi di jalan menciptakan tekanan psikologis berbeda bagi pemerintah dan masyarakat dibandingkan aksi digital.
Alternatif seperti diskusi publik, nonton bareng film bertema ketidakadilan, atau kegiatan seni juga efektif untuk merangkul mereka yang lebih suka cara tidak konfrontatif. “Cara-cara ini membuka ruang dialog inklusif dan menjadi pendekatan lebih lembut untuk menggugah kesadaran tanpa konflik. Kegiatan ini juga memungkinkan mahasiswa yang tidak ingin turun ke jalan tetap terlibat aktif dalam gerakan dan memperkuat kesadaran kolektif,” tutupnya.



















