Beruang ‘Azim’ Kembali ke Hutan usai Pulih dari Jerat, Jari Diamputasi

Ketapang, IDN Times - Satu individu beruang madu (Helarctos malayanus) jantan bernama Azim dikembalikan ke habitat alaminya di Hutan Lindung (HL) Gunung Tarak, Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat (13/3/2026).
Beruang madu tersebut sebelumnya telah melalui proses penyelamatan, perawatan, dan pemulihan oleh tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, serta YIARI.
Beruang Azim pertama kali teridentifikasi melalui kamera jebak (camera trap) yang dipasang oleh tim YIARI di HL Gunung Tarak untuk memantau keanekaragaman hayati pada November 2024.
1. Tim temukan beruang Azim dengan jerat

Direktur Operasional dan Program YIARI, Argitoe Ranting menuturkan, dalam rekaman tersebut terlihat seekor beruang dengan jerat terpasang pada kaki depan kanan. Saat berjalan, Azim tampak tidak menggunakan kaki tersebut untuk berpijak.
“Ketika kami melihat beruang yang terjebak jerat itu, kami sangat sedih karena jerat tersebut mengganggu mobilitasnya dan tentu menyebabkan penderitaan serta rasa sakit,” ujarnya.
Penggunaan jerat sangat kejam karena menangkap satwa secara tidak manusiawi dan menyebabkan penderitaan berkepanjangan karena satwa tidak langsung mati.
“Kami segera melaporkan temuan ini kepada pihak terkait, kemudian memulai proses pencarian beruang tersebut serta memasang kandang jebak untuk menyelamatkannya,” ungkapnya.
2. Azim ditemukan kaki bengkok dan jari harus diamputasi

Setelah beberapa bulan upaya pencarian, tepatnya pada 27 Juni 2025, Azim akhirnya berhasil ditangkap menggunakan kandang jebak setelah selama lebih dari tujuh bulan, beruang tersebut bertahan hidup dengan kondisi kaki yang terjerat.
Tim medis YIARI bersama petugas BKSDA Kalbar segera melakukan evakuasi dan pemeriksaan.
“Kondisi beruang saat diselamatkan sangat kurus dan mengalami infeksi yang cukup parah,” kata dokter hewan YIARI, drh. Ishma Maula.
drh. Ishma mengatakan, beruang ini mampu bertahan hidup selama berbulan-bulan, tetapi jika tidak segera diselamatkan saat itu, kemungkinan besar dia bisa mati akibat infeksi luka dan juga kelaparan.
Setibanya di klinik pusat rehabilitasi YIARI, Azim langsung menjalani perawatan intensif serta pengobatan untuk menyembuhkan luka yang parah.
“Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan bahwa tulang kaki sudah bengkok karena jerat terpasang dalam waktu lama, dan beberapa jari terpaksa harus kami amputasi,” terangnya.
Setelah menjalani perawatan dan pengobatan dalam jangka waktu cukup lama, kondisi fisik Azim berhasil pulih dan luka-lukanya menunjukkan perkembangan yang baik. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk mengembalikan Azim ke hutan alaminya di Gunung Tarak.
“Meskipun kaki yang sebelumnya terkena jerat tidak dapat digunakan secara normal, kami yakin Azim memiliki kesiapan untuk kembali ke habitat alaminya,” ucapnya.
3. Perburuan dan penggunaan jerat jadi ancaman nyata bagi satwa liar

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menegaskan bahwa kasus Azim kembali menunjukkan ancaman nyata bagi satwa liar di Indonesia.
Oscar mengatakan, perburuan dan penggunaan jerat masih menjadi salah satu ancaman serius yang tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi satwa liar, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup mereka.
“Kasus Azim mengingatkan kita bahwa perlindungan satwa tidak hanya berbicara tentang penyelamatan, tetapi juga tentang mencegah ancaman tersebut muncul di habitat mereka,” terangnya.
Plt. Kepala KPH Ketapang Selatan, Nursiah menuturkan, ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap kelestarian satwa liar salah satunya yaitu penyelamatan seekor beruang madu (Helarctos malayanus) bernama Azim di kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak.
Beruang tersebut pertama kali terdeteksi melalui kamera jebak dalam kondisi kaki terjerat kawat yang menyebabkan luka serius dan menghambat pergerakannya.
“Temuan ini ditindaklanjuti melalui kerja sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Kesatuan Pengelola Hutan Wilayah Ketapang Selatan, serta YIARI. Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua,” paparnya.
Pertama, penggunaan jerat masih menjadi ancaman nyata bagi satwa liar di kawasan hutan. Jerat bersifat tidak selektif dan dapat menangkap berbagai jenis satwa, termasuk spesies yang dilindungi.
Kedua, keberhasilan penyelamatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi multipihak merupakan kunci keberhasilan dalam upaya konservasi.
“Ketiga, keberadaan beruang madu di Gunung Tarak merupakan indikator bahwa kawasan hutan tersebut masih memiliki nilai ekologis yang tinggi dan perlu terus dijaga,” terangnya.
4. Azim dilepasliarkan ke kawasan strategis

Sebagai pengelola kawasan, KPH memiliki peran strategis dalam menjaga integritas ekosistem melalui penguatan perlindungan hutan, pengawasan aktivitas ilegal, serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Pelepasliaran Azim di Gunung Tarak bukan hanya keberhasilan penyelamatan individu satwa, tetapi juga simbol penting bahwa upaya konservasi hutan dan satwa liar harus terus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane menyampaikan, Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan satu satunya jenis beruang yang ada di Indonesia dan juga merupakan jenis beruang terkecil di dunia. Persebaran beruang ini berada di Kalimantan dan Sumatera.
Terbatasnya habitat akibat perubahan fungsi lahan, masih adanya perburuan dengan jerat merupakan beberapa faktor ancaman bagi kelestarian Beruang Madu si pemanjat pohon ini.
“Edukasi atau penyadartahuan tentang pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati harus terus digalakkan agar semua pihak bahu membahu menjaga kekayaan keanekaragaman hayati milik kita. Stop berburu. Stop pasang jerat. Satwa liar juga makhluk ciptaan Tuhan yang wajib kita jaga,” tukasnya.
Kisah Azim menunjukkan bahwa ancaman terhadap satwa liar, termasuk jerat, masih perlu menjadi perhatian bersama agar lebih banyak satwa dapat diselamatkan dan kembali hidup bebas di alam.


















