Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Brida Kaltim: Potensi Karbon Biru Padang Lamun Senilai Rp5,78 Miliar

Kota Samarinda
3 min read
Brida Kaltim: Potensi Karbon Biru Padang Lamun Senilai Rp5,78 Miliar
foto ilustrasi Padang Lamun (antaranews.com)
  • Padang lamun Kalimantan Timur menyimpan 1.157,51 ton karbon biru senilai potensi Rp5,78 miliar, berdasarkan harga perdagangan karbon Rp5 juta per ton.
  • Riset Brida Kaltim dan Universitas Mulawarman pada 2024–2026 menemukan sedimen sebagai penyimpan karbon terbesar; Pulau Miang Kecil mencatat 383,78 ton karbon per hektare.
  • Kaltim memiliki 7.225,6 hektare padang lamun dan 10 dari 13 jenis lamun Indonesia, dengan potensi ekonomi yang diharapkan dikelola berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Samarinda, IDN Times - Padang lamun di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) menyimpan potensi karbon biru dengan nilai ekonomi mencapai Rp5,78 miliar. Potensi tersebut berasal dari simpanan 1.157,51 ton karbon yang dapat dimanfaatkan melalui perdagangan karbon.

Koordinator Tim Periset Karbon Biru, Yekhali Auliansyah, mengatakan nilai tersebut diperoleh dengan mengacu pada harga perdagangan karbon yang saat ini mencapai Rp5 juta per ton.

"Nilai itu didapat dari simpanan 1.157,51 ton karbon di lokasi penelitian jika dikonversi dengan harga perdagangan karbon yang kini mencapai Rp5 juta per ton," ujar Auliansyah dilaporkan Antara di Samarinda, Jumat (2/10/2026).

  1. 1. Nilai ekonomi padang lamun di Kaltim

    potret padang lamun
    potret padang lamun (commons.wikimedia.org/Karim saari)

    Menurut dia, nilai ekonomi karbon yang tersimpan dalam ekosistem lamun hingga kini belum sepenuhnya dihitung dan dimanfaatkan secara optimal. Padahal, lamun memiliki peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

    Potensi tersebut terungkap melalui riset bertajuk Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim. Penelitian ini dilakukan secara berkesinambungan pada 2024–2026 melalui kerja sama Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kaltim, Yekhali, dan Universitas Mulawarman.

    Hasil penelitian menunjukkan sedimen menjadi tempat penyimpanan karbon terbesar dalam ekosistem lamun. Di Pulau Miang Kecil, Kabupaten Kutai Timur, stok karbon pada sedimen tercatat mencapai 383,78 ton karbon per hektare. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara lokasi penelitian, disusul wilayah Kutai Kartanegara sebesar 381,13 ton karbon per hektare.

  2. 2. Potensi padang lamun di Bontang

    ilustrasi emisi karbon, polusi
    ilustrasi emisi karbon, polusi (vecteezy.com/Asih Wahyuni)

    Sementara itu, stok karbon pada bagian tanaman lamun tertinggi ditemukan di Pulau Malahing, Bontang, sebesar 4,19 ton karbon per hektare. Adapun Pulau Miang Kecil mencatat simpanan karbon pada tegakan tanaman sebesar 2,18 ton karbon per hektare.

    "Temuan ini menegaskan peran sedimen sebagai gudang karbon utama ekosistem lamun," kata Auliansyah.

    Di perairan Malahing, Bontang, yang memiliki padang lamun seluas 802 hektare, tim peneliti memperkirakan simpanan karbon mencapai 209 ton. Potensi tersebut dinilai memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pengelolaan dan perdagangan karbon biru.

    Secara keseluruhan, Kaltim memiliki padang lamun seluas 7.225,6 hektare yang tersebar di Kabupaten Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, serta Kota Bontang dan Balikpapan, terutama di wilayah yang menjadi lokasi penelitian.

  3. 3. Keanekaragaman hayati di Kaltim

    Orangutan
    Salah satu individu orangutan yang dilepasliarkan di hutan Kalimantan Timur, Rabu (24/6/2026). BKSDA Kaltim

    Selain menyimpan karbon, padang lamun di Kaltim juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dari 13 jenis lamun yang ditemukan di Indonesia, sebanyak 10 jenis di antaranya terdapat di perairan Kaltim, termasuk Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, dan Halophila ovalis.

    Auliansyah berharap potensi karbon biru tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan agar memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

    "Kami berharap potensi besar ini dapat dikelola secara berkelanjutan, sehingga nilai ekonomi karbon biru mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat pesisir sekaligus menjaga ekosistem tetap lestari," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More