Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ingin Dianggap Hebat di Kantor? Jangan Terjebak Kebiasaan One Man Show!

Kota Samarinda
4 min read
Ingin Dianggap Hebat di Kantor? Jangan Terjebak Kebiasaan One Man Show!
ilustrasi melatih rekan kerja tugas yang akan dilimpahkan padanya (pexels.com/Christina Morillo)
  • Kebiasaan mengerjakan semuanya sendiri dapat menghambat kolaborasi, membuat rekan merasa tidak dipercaya, menurunkan motivasi, dan membatasi kontribusi tim.
  • Menanggung seluruh tugas meningkatkan risiko beban kerja berlebihan, stres, kelelahan, serta burnout; pembagian dan delegasi pekerjaan membantu menjaga produktivitas berkelanjutan.
  • Kolaborasi membuka perspektif, masukan, dan keputusan lebih matang, sekaligus mengembangkan komunikasi, kepercayaan, serta kemampuan kepemimpinan yang penting bagi pertumbuhan karier.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah bertemu rekan kerja yang selalu ingin mengerjakan semuanya sendiri? Mulai dari tugas kecil hingga proyek besar, semuanya ditangani tanpa melibatkan anggota tim lain. Sekilas, kebiasaan ini mungkin terlihat mandiri, pekerja keras, dan produktif. Namun, jika terus dilakukan, sikap one man show justru bisa merugikan diri sendiri dan menghambat perkembangan karier.

Dalam dunia kerja, kemampuan menyelesaikan tugas memang penting. Namun, kemampuan bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan memercayai rekan kerja juga tidak kalah penting.

Kebiasaan ingin mengendalikan semua pekerjaan sendiri bisa membuat beban kerja menumpuk, menghambat kolaborasi, hingga mengurangi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri.

Lantas, mengapa sikap one man show bukan kebiasaan yang baik di tempat kerja? Berikut lima alasannya.

  1. 1. Menghambat kolaborasi dan perkembangan tim

    Atasan pria berjas memangku dagu menatap ragu karyawannya yang sedang membawa dokumen di meja kantor
    ilustrasi gaya kepemimpinan tone-deaf dan kurang peka di lingkungan kerja (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Kebiasaan mengambil alih semua pekerjaan bisa membuat anggota tim lain kehilangan kesempatan untuk berkontribusi. Mereka mungkin merasa tidak dipercaya atau menganggap peran mereka tidak terlalu dibutuhkan.

    Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menurunkan motivasi kerja dan membuat anggota tim menjadi pasif. Padahal, kerja sama yang baik membutuhkan keterlibatan setiap anggota sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.

    Karena itu, penting untuk membangun komunikasi yang terbuka dan memberikan ruang bagi rekan kerja untuk berkontribusi. Ingat, keberhasilan tim bukan ditentukan oleh siapa yang paling sibuk, melainkan bagaimana semua anggota bisa bekerja sama mencapai tujuan.

  2. 2. Meningkatkan risiko burnout dan stres

    Wanita berkemeja putih duduk di meja kantor berantakan, menopang kepala dengan kedua tangan dengan ekspresi lelah dan stres di depan laptop.
    ilustrasi karyawan yang mengalami kelelahan mental dan stres di meja kantor akibat tekanan kerja (pexels.com/Anna Tarazevich)

    Mengambil tanggung jawab memang menunjukkan kesungguhan dalam bekerja. Namun, jika semua tugas harus diselesaikan sendiri, beban kerja bisa menjadi terlalu berat.

    Akibatnya, kamu berisiko mengalami kelelahan, kehilangan fokus, dan kesulitan menjaga produktivitas. Jika berlangsung dalam waktu lama, tekanan pekerjaan juga bisa memicu burnout atau kelelahan fisik dan mental akibat stres berkepanjangan.

    Untuk menghindarinya, cobalah membagi tugas sesuai kapasitas anggota tim. Belajar mendelegasikan pekerjaan bukan berarti menghindari tanggung jawab, melainkan mengelola pekerjaan agar lebih efektif dan berkelanjutan.

  3. 3. Sulit berkembang karena kurang perspektif baru

    Ilustrasi Lingkungan Kerja
    Ilustrasi Lingkungan Kerja (pexels.com/cottonbro studio )

    Merasa mampu mengerjakan semuanya sendiri bisa membuatmu melewatkan kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru dari rekan kerja.

    Padahal, setiap orang memiliki pengalaman, keterampilan, dan sudut pandang yang berbeda. Melalui kolaborasi, kamu bisa menemukan cara kerja yang lebih efisien, memperoleh ide baru, dan meningkatkan kemampuan profesional.

    Sebaliknya, jika selalu mengandalkan kemampuan sendiri, ruang untuk bertukar pengetahuan menjadi terbatas. Karena itu, jangan ragu berdiskusi, menerima masukan, dan belajar dari pengalaman orang lain.

  4. 4. Membuat keputusan bisa jadi kurang objektif

    ilustrasi seorang karyawan membatasi interaksi dengan rekan kerja bermasalah
    ilustrasi seorang karyawan membatasi interaksi dengan rekan kerja bermasalah (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan orang lain bisa membuatmu hanya melihat persoalan dari satu sudut pandang.

    Padahal, sebuah masalah terkadang membutuhkan pertimbangan dari berbagai pihak agar solusi yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Masukan dari rekan kerja juga dapat membantu menemukan risiko atau kekurangan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

    Dengan melibatkan tim dalam proses pengambilan keputusan, kamu bisa mempertimbangkan lebih banyak alternatif sebelum menentukan langkah. Hasilnya, keputusan yang diambil berpeluang menjadi lebih matang dan tepat sasaran.

  5. 5. Menjadi hambatan untuk pertumbuhan karier

    ilustrasi seorang karyawan debat dengan rekan kerja
    ilustrasi seorang karyawan debat dengan rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

    Di dunia kerja, kemampuan teknis bukan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan karier. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan mendelegasikan tugas juga penting, terutama ketika seseorang ingin menduduki posisi kepemimpinan.

    Karyawan yang terbiasa mengerjakan semuanya sendiri mungkin dinilai memiliki kemampuan individu yang baik. Namun, jika kesulitan mempercayai orang lain dan membangun kerja sama, kemampuan kepemimpinannya bisa menjadi kurang berkembang.

    Sebaliknya, pemimpin yang baik mampu membagi tanggung jawab, mengarahkan tim, serta membantu anggotanya berkembang. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kontribusi individu, tetapi juga pada kemampuan mengoptimalkan potensi seluruh anggota tim.

    Pada akhirnya, kebiasaan one man show mungkin terlihat mengesankan dalam jangka pendek. Namun, jika terus dipertahankan, kebiasaan ini bisa meningkatkan beban kerja, menghambat kolaborasi, dan membatasi perkembangan karier.

    Mulailah belajar memercayai rekan kerja, berbagi tanggung jawab, dan membuka diri terhadap masukan. Sebab, kesuksesan di dunia kerja bukan sekadar tentang seberapa banyak pekerjaan yang bisa kamu selesaikan sendiri, tetapi juga bagaimana kamu bisa berkembang bersama tim.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More