Kebakaran Hutan Makin Dekat ke Pusat Rehabilitasi Orangutan di Ketapang

Ketapang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mengancam kawasan di sekitar Pusat Rehabilitasi Orangutan milik Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Tim gabungan kini berjibaku memadamkan api agar tidak merembet ke fasilitas rehabilitasi dan habitat satwa liar.
Operasi pemadaman berlangsung dilakukan oleh tim gabungan di antaranya adalah Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri dari BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, bersama YIARI dan PT MoPaKha dikerahkan untuk mengendalikan api yang terus berpotensi meluas akibat cuaca kering dan angin kencang.
1. Karhutla dekati pusat rehabilitasi orangutan

Untuk mempercepat penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengerahkan helikopter water bombing guna memadamkan titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Langkah ini dilakukan untuk melindungi kawasan hutan sekaligus mencegah kobaran api mendekati pusat rehabilitasi orangutan.
Karhutla pertama kali terdeteksi di kawasan Jalan Ketapang–Tanjungpura Kilometer 5, sekitar satu kilometer dari pusat rehabilitasi. Berdasarkan pemantauan sementara, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare, meski pendataan masih terus dilakukan.
2. Orangutan di pusat rehabilitasi dipantau langsung oleh dokter

Mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, YIARI langsung mengaktifkan prosedur tanggap darurat. Tim melakukan penyiraman di area sekitar, meningkatkan patroli, serta memperketat pemantauan terhadap seluruh satwa yang sedang menjalani rehabilitasi.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, memastikan seluruh orangutan yang berada di pusat rehabilitasi dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh dokter hewan serta animal keeper.
“Keselamatan satwa yang sedang menjalani rehabilitasi menjadi prioritas utama kami. Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orangutan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, kebakaran hutan tidak hanya mengancam satwa liar, tetapi juga habitatnya, keselamatan masyarakat, dan keberlangsungan ekosistem hutan.
Selain mengancam fasilitas rehabilitasi, asap karhutla juga berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat.
3. Asap karhutla ancam berbagai gangguan kesehatan

Dokter spesialis mikrobiologi di Ketapang, dr. Simon Yosonegoro Liem mengatakan paparan asap karhutla dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan.
“Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memperburuk gangguan pernapasan, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” jelasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Efendi, mengatakan penanganan karhutla di sekitar pusat rehabilitasi merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi hutan, satwa liar, dan masyarakat.
“Sinergi seluruh pihak di lapangan terus diperkuat agar api dapat segera dikendalikan. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin,” katanya.
Tim gabungan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar selama musim kemarau. Pelaporan dini terhadap titik api dinilai menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas dan meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan maupun satwa liar yang hidup di kawasan hutan.

















