Lifting Minyak Kalsul Tembus 77 Ribu Barel per Hari, Lampaui Target Nasional

Lifting minyak dan kondensat Kalsul mencapai 77.003 bopd per 30 September 2026, setara 123 persen target APBN dan menyumbang 13 persen lifting minyak nasional.
Lifting gas Kalsul tercatat 1.525 mmscfd atau memenuhi 100 persen target APBN, dengan kontribusi 29 persen dari total lifting gas nasional.
SKK Migas mengembangkan cadangan lepas pantai Kaltim melalui proyek North Hub dan South Hub, sambil memperkuat fasilitas produksi, keselamatan operasi, serta pengolahan gas di Bontang.
Balikpapan, IDN Times - Realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) di wilayah Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) hingga triwulan III-2026 berhasil melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Perwakilan Kalsul mencatat, lifting minyak dan kondensat mencapai 77.003 barel minyak per hari (bopd) per 30 September 2026. Angka tersebut setara 123 persen dari target APBN sebesar 62.503 bopd.
Capaian tersebut juga menempatkan Kalsul sebagai penyumbang 13 persen lifting minyak nasional. Sementara itu, tingkat produksi minyak dan kondensat tercatat sebesar 77.094 bopd.
1. Prestasi nasional di tengah tren penurunan migas

Kepala SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi, Haryanto Syafri, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Sri Wibisono) Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul, Haryanto Syafri, mengatakan capaian tersebut menjadi prestasi bersama di tengah tren penurunan produksi minyak nasional.
"Di saat produksi nasional sedang turun, ternyata produksi Kalsul itu stabil dan naik. Ini adalah prestasi kita bersama untuk kita jaga dan kita pertahankan," ujar Haryanto dikutip dari Antara di Balikpapan, Selasa (3/11/2026).
Di sektor gas bumi, lifting Kalsul tercatat mencapai 1.525 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) dari total produksi sebesar 1.651 mmscfd. Realisasi tersebut memenuhi 100 persen target APBN yang ditetapkan sebesar 1.526 mmscfd.
Kontribusi lifting gas Kalsul terhadap produksi nasional juga cukup besar, yakni mencapai 29 persen dari total lifting gas nasional sebesar 5.193 mmscfd.
Haryanto menjelaskan, capaian tersebut didukung operasional sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Kalsul. Di antaranya PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), serta operator blok migas laut dalam seperti Eni Indonesia dan Mubadala Energy.
2. Eksploitasi lapangan migas di Kalimantan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Balikpapan, Kamis (22/10/2026). (IDN Times/Sri Wibisono) Ke depan, penguatan produksi migas regional juga diarahkan melalui pengembangan sejumlah temuan cadangan besar di lepas pantai Kalimantan Timur. Beberapa di antaranya Geng North, Gula, Konta, hingga penemuan terbaru Geliga-1.
Pengembangan lapangan tersebut dilakukan melalui integrasi fasilitas produksi atau hub untuk mengoptimalkan pengolahan dan penyaluran hasil produksi migas.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah North Hub, yang mengintegrasikan lapangan Geng North dan Gehem. Proyek tersebut telah mencapai tahap Keputusan Investasi Akhir (Final Investment Decision/FID) dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Pengembangan serupa juga dilakukan melalui South Hub yang menghubungkan lapangan Gendalo dan Gandang.
3. Menghidupkan kembali industri migas di Kaltim

Kilang gas alam cair milik Badak LNG di Bontang, Kalimantan Timur. (Dok. Badak LNG) Haryanto berharap pengembangan fasilitas pengolahan gas, termasuk di Bontang, dapat membuka peluang peningkatan produksi sekaligus menggerakkan kembali rantai bisnis industri migas.
"Mudah-mudahan ke depan dengan rencana pengembangan fasilitas pengolahan seperti di Bontang, dari dua train yang ada bisa berkembang menjadi enam train. Di situ akan ada peluang produksi yang lebih baik, sehingga rantai bisnis ke belakangnya akan ikut hidup kembali," katanya.
Selain mendorong pengembangan lapangan baru, SKK Migas bersama KKKS juga memprioritaskan keandalan fasilitas produksi yang sudah beroperasi, optimalisasi penemuan cadangan baru, serta penguatan aspek keselamatan dan keamanan operasional di lapangan.
Adapun pemanfaatan gas bumi untuk kebutuhan domestik, termasuk sektor industri dan kelistrikan, tetap mengacu pada kebijakan serta penetapan pemerintah pusat.
Melalui berbagai upaya tersebut, SKK Migas berharap kontribusi sektor hulu migas Kalsul terhadap pasokan energi nasional dan perekonomian daerah dapat terus diperkuat.






















