Tak Hanya untuk Kalimantan, Batu Bara Kaltim Suplai Listrik Sulawesi

- Gubernur Rudy Mas’ud memastikan pasokan batu bara Kaltim untuk DMO berjalan lancar, memasok PLTU PLN di Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lain karena kualitasnya sesuai kebutuhan.
- Penggunaan jalan provinsi oleh PT Ganda Alam Makmur masih menunggu kajian ESDM, DLH, dan perusahaan; sementara SPAM Maloy kembali melayani Sangkulirang serta Kaliorang.
- Penanganan jalur lintas utara Kaltim sepanjang 148 kilometer mencapai sekitar 95 persen, ditargetkan tuntas akhir 2026 atau awal 2027; Pemprov juga mendukung PLTA Batoq Kelo 300 MW.
Samarinda, IDN Times - Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud memastikan produksi dan penyaluran batu bara dari wilayah Kaltim berjalan lancar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik atau Domestic Market Obligation (DMO). Pasokan tersebut diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) di berbagai wilayah Indonesia.
Rudy mengatakan, batu bara yang diproduksi di Kaltim memiliki kualitas yang sesuai dengan kebutuhan PLN. Pasokannya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Kalimantan, tetapi juga Sulawesi dan sejumlah daerah lainnya.
"Kita memastikan bahwa terkait batu bara ini tidak ada masalah. Kebetulan batu bara dari sini cocok untuk PLN dan dikontribusikan untuk DMO, tidak hanya bagi masyarakat Kalimantan, tetapi juga Sulawesi dan seluruh Indonesia," ujar Rudy saat melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Kutai Timur dikutip dari Antara, Selasa (2/11/2026).
Kepastian pasokan batu bara tersebut menjadi salah satu agenda peninjauan Rudy selama dua hari, pada 1–2 November 2026. Dalam kunjungan itu, gubernur juga memeriksa kondisi infrastruktur jalan, kesiapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, serta keberlangsungan pasokan batu bara dari PT Ganda Alam Makmur (GAM).
1. Permohonan akses jalan provinsi untuk perusahaan

Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud. (Dok. Pemprov Kaltim) Saat meninjau area operasional PT GAM di Kaliorang, Rudy turut membahas permohonan perusahaan untuk menggunakan jalan provinsi sebagai akses kegiatan operasional dan eksplorasi.
Namun, Rudy menegaskan, permohonan tersebut perlu melalui kajian teknis dan komprehensif dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, terutama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
"Kita perlu kajian dari ESDM, Lingkungan Hidup, serta kajian dari PT Ganda Alam Makmur sendiri seberapa besar manfaat yang diberikan bagi masyarakat di sekitar Kutai Timur ini," katanya.
Selain sektor pertambangan, Rudy juga meninjau perkembangan fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Maloy atau Water Treatment Plant (WTP) Maloy. Fasilitas yang dibangun sejak 2018 tersebut sempat tidak beroperasi hingga awal 2024.
Kini, instalasi pengolahan air bersih itu telah kembali beroperasi dan didistribusikan melalui Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Kutai Timur. Layanannya sudah menjangkau masyarakat di Kecamatan Sangkulirang dan Kaliorang.
2. Pasokan air bersih SPAM Maloy

Ilustrasi Bendungan Teritip di Balikpapan Timur, menjadi salah satu sumber air baku bagi warga Balikpapan. (Dok. PTMB) Saat ini, SPAM Maloy mampu menyalurkan sekitar 3.000 meter kubik air bersih per hari. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama saat musim kemarau.
Ke depan, kapasitas pengolahan air baku SPAM Maloy ditargetkan meningkat menjadi 720 meter kubik per jam atau sekitar 15.000 meter kubik per hari.
Rudy berharap ketersediaan air bersih dan pasokan listrik yang memadai dapat memperkuat daya tarik KEK Maloy bagi investor. Sejumlah sektor industri yang dibidik antara lain pengolahan minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan industri gasifikasi.
3. Perbaikan akses jalan lintas utara Kaltim

Ilustrasi kerusakan Jalan Poros Samarinda-Bontang persisnya di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara masih alami kerusakan (IDN Times/Yuda Almerio) Dalam kunjungan tersebut, Rudy bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltim juga meninjau jalur provinsi lintas utara sepanjang 148 kilometer.
Jalur tersebut meliputi ruas Samarinda–Anggana sepanjang 19 kilometer, Anggana–Muara Badak 47 kilometer, Muara Badak–Marangkayu 50 kilometer, Marangkayu–Sekambing 2 kilometer, serta Sekambing–Bontang 30 kilometer.
Ruas jalan provinsi itu terhubung dengan jalur nasional Bontang–Sangatta hingga Sangatta–Sangkulirang.
Rudy menyebut progres penanganan jalan pesisir tersebut telah mencapai sekitar 95 persen. Perbaikan dilakukan secara bertahap, salah satunya melalui pembangunan perkerasan beton atau rigid pavement.
Pemprov Kaltim menargetkan seluruh sisa pekerjaan dapat diselesaikan sehingga jalur tersebut terkoneksi dengan kondisi jalan yang lebih baik pada akhir 2026 atau awal 2027. Setelah itu, pembangunan konektivitas akan dilanjutkan ke kawasan pesisir selatan hingga Balikpapan.
Usai menuntaskan agenda di Kutai Timur, Rudy dijadwalkan melanjutkan kunjungan kerja ke Kutai Barat, Mahakam Ulu, hingga kawasan perbatasan Malinau.
Salah satu agenda utama di wilayah tersebut adalah mendukung percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo di Mahakam Ulu.
Proyek berkapasitas 300 megawatt (MW) itu diharapkan dapat memperkuat transisi menuju energi hijau sekaligus membantu mengatasi defisit pasokan listrik di Kaltim.




















