100 Massa Datangi PLBN Aruk, 5 Petugas Bea Cukai DIgelandang ke Bengkayang

- Sekitar 100 orang mendatangi PLBN Aruk, Sambas, Senin malam, memprotes pemeriksaan barang Bea Cukai terhadap WNI yang hendak menyeberang ke Malaysia.
- Ketegangan bermula ketika tiga dari empat WNI menolak pemeriksaan setelah seorang bernama Michael diperiksa tanpa ditemukan barang terlarang; mereka kemudian membatalkan perjalanan.
- Lima petugas Bea Cukai dibawa massa ke Bengkayang untuk mediasi dan proses adat, menurut polisi bukan penyanderaan; aparat sebelumnya telah disiagakan di lokasi.
Sambas, IDN Times - Situasi di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar) sempat memanas setelah sekitar 100 orang mendatangi kawasan perbatasan tersebut, pada Senin (2/11/2026) malam.
Kedatangan massa dipicu protes terhadap pemeriksaan barang bawaan oleh petugas Bea Cukai terhadap sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang hendak menyeberang ke Malaysia.
Puncak ketegangan terjadi sekitar pukul 19.45 WIB. Lima petugas Bea Cukai yang masih berada di lokasi dibawa oleh massa menuju Kabupaten Bengkayang.
1. Lima petugas Bea Cukai dibawa massa

Warga bawa massa gruduk PLBN Aruk. (IDN Times/istimewa). Peristiwa ini sempat memunculkan dugaan penyanderaan terhadap para petugas. Namun, Kapolres Sambas, AKBP Sanny Handityo membantah kabar tersebut.
Menurut Sanny, persoalan bermula dari kesalahpahaman antara warga dan petugas Bea Cukai saat proses pemeriksaan di PLBN Aruk.
“Salah paham saja sama Bea Cukai terkait pemeriksaan. Mereka anggap Bea Cukai terlalu keras,” kata Sanny, Selasa (3/11/2026).
Ia menegaskan, kelima petugas tersebut dibawa untuk menjalani mediasi dengan warga, bukan disandera.
“Nggak disandera. Dibawa biar mau dimediasi saja,” ujarnya.
2. Berawal dari penolakan pemeriksaan

Warga Bengkayang menolak untuk pemeriksaan saat melintas PLBN Aruk. (IDN Times/istimewa). Ketegangan di PLBN Aruk bermula pada Senin siang sekitar pukul 14.30 WIB. Saat itu, empat WNI tiba di kawasan perbatasan untuk melakukan perjalanan ke Malaysia.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan imigrasi, mereka diarahkan untuk menjalani pemeriksaan barang bawaan oleh petugas Bea Cukai.
Satu orang bernama Michael bersedia menjalani pemeriksaan. Namun, setelah barang bawaannya diperiksa dan tidak ditemukan barang terlarang, tiga orang lainnya justru menolak mengikuti prosedur tersebut.
Penolakan itu kemudian disertai protes terhadap petugas Bea Cukai. Keempat WNI tersebut akhirnya membatalkan perjalanan ke Malaysia dan meninggalkan kawasan PLBN.
3. Massa datang cari petugas sebelumnya

Warga sempat cekcok dengan petugas Bea Cukai karena tak mau diperiksa. (IDN Times/istimewa). Namun, persoalan ternyata belum selesai. Sekitar pukul 17.00 WIB, sejumlah orang yang disebut berasal dari kelompok Michael mulai berdatangan ke PLBN Aruk.
Mengantisipasi situasi yang berpotensi memanas, aparat kepolisian bersama personel Brimob dan TNI AD disiagakan di lokasi.
Dua jam berselang, sekitar pukul 18.30 WIB, massa yang diperkirakan mencapai 100 orang tiba di kawasan PLBN.
Mereka kemudian masuk ke Wisma Nusantara dan menyisir sejumlah ruangan untuk mencari petugas Bea Cukai yang sebelumnya melakukan pemeriksaan.
Karena petugas yang dicari tidak ditemukan, situasi semakin tidak terkendali. Lima petugas Bea Cukai yang masih berada di lokasi akhirnya dibawa massa menuju Kabupaten Bengkayang.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, kelima petugas itu dibawa untuk dijadikan jaminan sekaligus menjalani proses adat di Bengkayang.
Adapun lima petugas tersebut masing-masing Boy Haris Bambang Purwadi, Reza Rizki Wahyu Pradana, Pillar Pitoyo, Kiki Shihabudin Marshanda, dan Sulistyo Wahyu Tri Atmojo.
Personel Polres Sambas yang dipimpin langsung Kapolres Sambas tiba di PLBN Aruk setelah massa meninggalkan kawasan tersebut.
Jarak antara Mapolres Sambas dan PLBN Aruk mencapai sekitar 90 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam.





















