Telur penyu masih punya harapan berkembang. (IDN Times/istimewa).
Dokter hewan sekaligus Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia, Drh. Dwi Suprapti, menjelaskan hasil pemeriksaan menunjukkan telur dari Temajuk masih dalam kondisi cukup baik.
Telur-telur tersebut berukuran sekitar 3,53 hingga 4,16 sentimeter dengan berat 3,62 hingga 3,87 gram. Berdasarkan ukuran dan beratnya, telur tersebut cenderung merupakan telur penyu hijau (Chelonia mydas).
Hasil candling juga menunjukkan adanya tanda-tanda fertilitas. Cangkangnya masih diselimuti lendir alami dan pasir sehingga kondisi telur dinilai masih memungkinkan untuk berkembang.
“Terhadap telur penyu asal Paloh kami rekomendasikan untuk ditetaskan kembali atau diinkubasi menggunakan pasir pantai,” ujar Dwi.
Telur direkomendasikan diinkubasi menggunakan pasir pantai yang agak kasar dengan kedalaman sarang sekitar 50-70 sentimeter dan suhu 28-30 derajat Celsius.
Namun kondisi berbeda ditemukan pada telur yang diduga berasal dari Kepulauan Riau.
Hasil pemeriksaan sampel menunjukkan tidak adanya tanda-tanda fertilitas. Telur juga dalam kondisi basah dan bersih tanpa pasir.
Menurut Dwi, kondisi tersebut membuat pori-pori cangkang lebih mudah terbuka sehingga telur berisiko menyerap terlalu banyak air dan terpapar mikroba. Kondisi itu dapat menyebabkan embrio gagal berkembang. Karena itu, telur asal Kepulauan Riau tidak direkomendasikan untuk ditetaskan kembali dan dapat dimusnahkan karena peluang menetasnya sangat kecil.