Tembus 948 Ribu! Pengguna QRIS di Kaltim Terus Melonjak

- Pengguna QRIS di Kalimantan Timur mencapai 948.300 pada triwulan II 2026, naik dari 906.600 sebelumnya; jumlah merchant juga meningkat menjadi 910.700.
- Pada Juli 2026, transaksi RTGS di Kaltim bernilai Rp15,26 triliun dengan 6,73 ribu transaksi, sedangkan SKNBI mencapai Rp2,34 triliun dalam 47,78 ribu transaksi.
- Transaksi SPNT Juli 2026 turun 18,19 persen secara nominal dan 22,81 persen secara volume; peredaran uang kartal mencatat net outflow Rp423,3 miliar.
Samarinda, IDN Times - Pemanfaatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus meningkat. Hingga triwulan II 2026, jumlah pengguna QRIS mencapai 948.300, naik dari 906.600 pengguna pada triwulan sebelumnya.
Pertumbuhan juga terjadi pada jumlah merchant QRIS. Hingga triwulan II 2026, jumlah merchant tercatat mencapai 910.700, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebanyak 835.300 merchant.
"Perkembangan tersebut menunjukkan penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran digital terus meluas," ujar Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Kaltim Bayuadi Hardiyanto dilaporkan Antara di Samarinda, Sabtu (26/9/2026).
1. Perkembangan sistem pembayaran di daerah

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim di Jalan Gajah Mada, Samarinda (IDN Times/Yuda Almerio) Menurut Bayuadi, peningkatan penggunaan QRIS menjadi bagian dari perkembangan sistem pembayaran di daerah. Kondisi tersebut sejalan dengan aktivitas ekonomi masyarakat yang semakin mengarah pada transaksi nontunai.
Selain QRIS, transaksi melalui sistem pembayaran bernilai besar dan ritel di Kaltim juga menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.
Pada Juli 2026, nominal transaksi melalui Real Time Gross Settlement (RTGS) tercatat Rp15,26 triliun dengan volume sekitar 6,73 ribu transaksi.
2. Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia

ilustrasi pembayaran cashless, QR Code, QRIS, pembayaran digital (pexels.com/Julio Lopez) Sementara itu, transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) pada periode yang sama mencapai Rp2,34 triliun dengan volume 47,78 ribu transaksi.
Adapun transaksi Sistem Pembayaran Nontunai (SPNT) pada Juli 2026 mengalami kontraksi 18,19 persen secara nominal dibandingkan bulan sebelumnya. Dari sisi volume, transaksi SPNT juga turun 22,81 persen.
Bayuadi mengatakan perkembangan sistem pembayaran menjadi salah satu indikator penting untuk melihat aktivitas ekonomi daerah. Hal ini terutama seiring dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi digital oleh masyarakat dan pelaku usaha.
3. Peredaran uang kartal di Kaltim

Kebutuhan uang kartal ini naik sebesar 3 persen dibanding periode HBKN Idul Fitri tahun 2024. (Dok. Bank Indonesia) Di sisi lain, peredaran uang kartal di Kaltim pada Juli 2026 mencatat posisi net outflow sebesar Rp423,3 miliar. Artinya, jumlah uang kartal yang keluar dari Kaltim lebih besar dibandingkan uang yang masuk melalui sistem perbankan.
"Bank Indonesia terus mendorong ekosistem pembayaran yang aman, efisien dan inklusif, sejalan dengan kebutuhan masyarakat serta perkembangan aktivitas ekonomi di daerah," kata Bayuadi.
Ia menambahkan, perluasan penggunaan QRIS menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong transformasi transaksi masyarakat menuju sistem pembayaran yang lebih cepat dan praktis.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















