Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyak yang Terjebak! Ini 5 Kesalahan Fatal saat Mengelola Uang Pesangon
ilustrasi uang pesangon (pexels.com/Yan Krukau)
  • Dana pesangon perlu dialokasikan melalui anggaran dan daftar prioritas agar pengeluaran terkendali serta tidak habis tanpa disadari.
  • Hindari belanja konsumtif dan pembelian barang mewah; utamakan kebutuhan pokok seperti makan, utilitas, dan cicilan untuk mencegah masalah keuangan baru.
  • Hitung ketahanan dana hingga mendapat pekerjaan baru, lalu sisihkan sebagian untuk dana darurat, tabungan, atau investasi sebagai perlindungan finansial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dapat uang pesangon setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) memang bisa menjadi angin segar di tengah situasi sulit. Namun, jangan sampai rasa lega membuat Anda terlena. Jika tidak dikelola dengan baik, uang pesangon bisa habis dalam waktu singkat tanpa memberikan manfaat jangka panjang.

Agar kondisi keuangan tetap aman hingga mendapatkan pekerjaan baru, berikut lima kesalahan yang sebaiknya dihindari saat mengelola uang pesangon.

1. Tidak memiliki rencana alokasi keuangan

ilustrasi sedang membuat rencana dan menyusun prioritas. (pexels.com/ Pavel Danilyuk)

Kesalahan paling umum adalah menggunakan uang pesangon tanpa perencanaan yang jelas. Tanpa alokasi anggaran, pengeluaran cenderung tidak terkendali sehingga dana habis tanpa disadari. Karena itu, buatlah daftar prioritas agar setiap rupiah digunakan sesuai kebutuhan.

2. Terlalu boros

ilustrasi boros (pexels.com/tim douglas)

Diskon besar atau keinginan mengikuti gaya hidup sering kali menggoda untuk berbelanja. Padahal, uang pesangon bukanlah bonus yang bisa dihabiskan sesuka hati. Hindari membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan agar kondisi keuangan tetap stabil.

3. Abaikan kebutuhan pokok

ilustrasi nasihat di meja makan (pexels.com/Ron Lach )

Sebagian orang justru mengutamakan pembelian barang mewah dibanding kebutuhan utama seperti biaya makan, listrik, air, hingga cicilan. Kebiasaan ini dapat memicu masalah keuangan baru. Pastikan kebutuhan pokok tetap menjadi prioritas utama.

4. Menghabiskan uang sebelum mendapatkan pekerjaan

ilustrasi boros (pexels.com/gustavo fring)

Uang pesangon bersifat sementara dan tidak akan diterima setiap bulan. Karena itu, penting untuk menghitung berapa lama dana tersebut dapat mencukupi kebutuhan hidup hingga memperoleh pekerjaan baru. Perencanaan ini akan membantu Anda menghindari risiko kehabisan uang di tengah masa pencarian kerja.

5. Tidak digunakan untuk menabung atau investasi

ilustrasi menabung (pexels.com/Joslyn Pickens)

Jika memungkinkan, sisihkan sebagian uang pesangon untuk dana darurat, tabungan, atau investasi. Langkah ini dapat memberikan perlindungan finansial sekaligus menjadi modal untuk menghadapi kebutuhan di masa depan.

Mengelola uang pesangon dengan bijak merupakan langkah penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat setelah PHK. Dengan menyusun anggaran, memprioritaskan kebutuhan, dan menghindari pengeluaran konsumtif, uang pesangon dapat menjadi penopang keuangan hingga Anda kembali mendapatkan sumber penghasilan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article