Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Habitat Rusak Akibat Karhutla, Satu Orangutan Dievakuasi di Ketapang

Kota Pontianak
Habitat Rusak Akibat Karhutla, Satu Orangutan Dievakuasi di Ketapang
Orangutan dilepasliarkan ke lokasi yang lebih aman dari Karhutla. (IDN Times/YIARI).
Intinya Sih
  • Seekor orangutan jantan bernama Wak dievakuasi dari perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Ketapang, pada 6 Agustus 2026 setelah karhutla dan pembukaan lahan mengancam habitatnya.
  • Kebakaran dan fragmentasi hutan membuat orangutan kehilangan pakan serta perlindungan, mendorongnya masuk kebun warga dan memicu risiko konflik bagi satwa maupun masyarakat.
  • Wak dilepasliarkan ke konsesi PT Mopakha yang memiliki hutan dan pakan memadai; BKSDA menekankan pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketapang, IDN Times - Seekor orangutan jantan terpaksa harus dievakuasi dari area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar) usai habitatnya terancam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang meluas di kawasan tersebut.

Evakuasi dilakukan pada Kamis (6/8/2026) oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), serta masyarakat setempat.

Orangutan jantan yang kemudian diberi nama Wak itu sebelumnya beberapa kali terlihat berada di perkebunan buah milik warga sejak Juli 2026. Kemunculannya diduga dipicu rusaknya habitat akibat kebakaran dan pembukaan lahan, sehingga satwa dilindungi tersebut keluar mencari makanan dan tempat yang lebih aman.

1. Habitat orangutan terancam akibat karhutla

726231cd-e7d0-4a22-b0ea-32f9cea6a65f.jpeg
Orangutan terancam karhutla di Ketapang. (IDN Times/YIARI).

Selain berpotensi merusak tanaman warga, keberadaan orangutan di tengah kawasan yang dilanda karhutla dinilai berisiko bagi keselamatan satwa maupun masyarakat. Kondisi itu mendorong tim gabungan segera melakukan evakuasi.

Dalam catatan YIARI, kawasan Kuala Tolak bukan kali pertama menjadi lokasi penyelamatan orangutan saat musim kebakaran. Kasus serupa juga terjadi pada 2015 dan 2019 ketika kebakaran besar melanda wilayah tersebut.

Salah seorang warga Desa Kuala Tolak, Morsali, mengatakan kemunculan orangutan di kebun warga berkaitan erat dengan rusaknya habitat di hutan.

“Orangutan keluar ini karena habitatnya terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi sekarang musim kemarau dan kebakaran di mana-mana. Dia mencari tempat yang aman untuk makan dan berlindung,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

2. Orangutan kehilangan sumber pangan dan lari ke kebun warga

9855ffd8-bfea-4585-b2f2-3d7dc69e9649.jpeg
Tim dalam perjalanan ke lokasi yang lebih aman untuk orangutan. (IDN Times/YIARI).

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi juga memicu konflik antara satwa liar dan manusia.

Menurutnya, ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan sumber pakan serta tempat berlindung sehingga terdorong masuk ke kebun warga. Di sisi lain, masyarakat juga mengalami kerugian akibat tanaman yang rusak.

“Orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik pembukaan lahan yang memicu kebakaran. Dampaknya juga membebani pemerintah dalam penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, hingga pemulihan habitat,” katanya.

Silverius menambahkan, kondisi karhutla di Ketapang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena tidak hanya mengancam satwa liar, tetapi juga telah menimbulkan korban jiwa.

3. Orangutan dilepasliarkan ke kawasan konsensi yang aman

079bf76c-b155-4281-be2d-50b39ea61555.jpeg
Orangutan jantan dipindahkan usai habitatnya terancam karhutla. (IDN Times/YIARI).

Setelah berhasil dievakuasi, orangutan tersebut dilepasliarkan kembali ke kawasan konsesi PT Mopakha yang masih berada dalam bentang hutan yang sama dengan habitat asalnya. Lokasi itu dipilih karena dinilai masih memiliki tutupan hutan yang baik, sumber pakan yang cukup, serta populasi orangutan liar yang sehat.

Sementara itu, General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, mengatakan perusahaan akan terus mendukung pemantauan terhadap orangutan tersebut agar dapat beradaptasi kembali di habitat alaminya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengapresiasi kolaborasi seluruh pihak dalam penyelamatan satwa dilindungi tersebut.

Menurutnya, translokasi dilakukan sebagai langkah mitigasi konflik sekaligus upaya menyelamatkan orangutan dari ancaman kebakaran hutan yang terus menekan habitat alaminya.

Ia menegaskan, pencegahan konflik satwa liar harus dibarengi dengan pengendalian karhutla, perlindungan habitat, dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More