Tanaman mangrove di sejumlah kawasan di Indonesia. Foto istimewa
Cara ini, jelas Agus, terbukti meningkatkan harapan hidup mangrove, sebab selain nutrisinya cukup, juga akar dan batangnya bebas dari kemungkinan disapu sampah yang terbawa air pasang.
Planter bag yang disangga dan diganjal turus dengan sendirinya juga mencegah pasang surut air laut menyeret bibit yang baru ditanam. Bila tanaman sudah cukup kuat, polibagnya bisa dibuka dan mangrovenya tumbuh bebas.
Saat ini juga sedang dibangun jembatan panjang yang berfungsi sebagai akses jalan untuk monitoring dan perawatan bibit=bibit yang sudah ditanam.
“Jembatan itu yang kita butuhkan untuk mengawasi dan memelihara mangrove,” kata Ketua Pengelola Kampung Atas Air Arbain Side. Seperti juga Agus Bei, Arbain Side adalah juga penerima Hadiah Kalpataru sebagai pengabdi lingkungan.
Dalam kesempatan itu juga, meski sudah pakai metode planter bag, sekali lagi Agus Bei mengingatkan agar mangrove yang baru ditanam jangan sampai tersapu gelombang dan tertutup sampah yang dibawa arus. Sampah plastik yang tersangkut di batang mangrove yang masih kecil, atau terikat di akar mangrove dewasa bisa jadi pencekik yang mematikan. Karena itu agar mangrove tumbuh baik, pengelola harus sering patroli. Segera sampah terlihat, segera juga diambil. Begitu pula kalau ada bibit mangrove yang mati, segeralah diganti.
“Semoga dengan sering dilihat dan ditengok itu, mangrovenya tumbuh baik dan pesan kepedulian lingkungan dari kami tersampaikan. Semoga juga bisa meningkatkan kecintaan kita terhadap lingkungan yang lestari,” kata Pejabat Sementara General Manager PT KPI Unit Balikpapan Novie Handoyo Anto.