Menjelang Ramadhan, Ini Keistimewaan Malam Nisfu Sya’ban

Banjarmasin, IDN Times - Ustaz Ahmad Walad Hadrawi mengajak umat Muslim memanfaatkan malam peribadatan Nisfu Sya’ban secara maksimal. Ajakan tersebut disampaikan dalam tausyiah di Masjid Al Falah, Kompleks Bumi Pemurus Permai, Kelurahan Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan.
Menurut Ustaz Walad, berdasarkan pendapat para ulama, malam Nisfu Sya’ban memiliki kemuliaan yang sangat tinggi setelah Lailatul Qadar.
“Tidak ada malam yang lebih mulia setelah Lailatul Qadar kecuali malam Nisfu Sya’ban,” ujarnya diberitakan Antara di hadapan jemaah, Senin (2/2/2026).
1. Hari Raya Malaikat

Ia menjelaskan, umat Nabi Muhammad SAW memiliki dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Sementara itu, Lailatul Qadar dan Nisfu Sya’ban disebut sebagai ‘hari raya’ bagi para malaikat.
“Malaikat adalah makhluk Allah yang selalu taat dan tidak pernah berbuat dosa. Karena itu, Lailatul Qadar dan Nisfu Sya’ban menjadi momentum yang sangat istimewa bagi umat Muslim,” ujar ustaz muda yang pernah menimba ilmu di Tarim, Hadramaut, Yaman tersebut.
Ustaz Walad menuturkan, malam Nisfu Sya’ban merupakan waktu penetapan ketentuan, sedangkan malam Lailatul Qadar menjadi waktu penyerahan ketentuan tersebut.
2. Memperbanyak doa di malam Nisfu Syaiban

Oleh karena itu, ia mengajak umat Muslim memperbanyak doa pada malam Nisfu Sya’ban. Meski demikian, ia menegaskan doa tidak mengubah ketetapan Allah.
“Fungsi doa adalah menyelaraskan permintaan kita dengan ketetapan Allah,” katanya, seraya mengutip pendapat Abdullah bin Abbas, sepupu Rasulullah SAW.
Terkait keutamaan Nisfu Sya’ban, Ustaz Walad juga mengutip riwayat Aisyah RA yang menceritakan Rasulullah SAW melakukan sujud dalam waktu yang lama pada malam tersebut. Saat ditanya, Rasulullah SAW menjawab bahwa dirinya sedang berdoa.
3. Rasa syukur atas nikmat Tuhan

Dalam pengajian rutin Kalam Hikmah Ibnu Athaillah al-Iskandari yang digelar setiap Senin Subuh, Ustaz Walad juga menyampaikan sikap manusia terhadap pemberian Allah. Salah satunya adalah rasa gembira.
Namun, ia mengingatkan agar kegembiraan tidak berlebihan hingga melupakan Sang Pemberi Nikmat. Sebab, kondisi tersebut dapat menjadi istidraj, yakni jebakan berupa limpahan nikmat duniawi yang justru menjauhkan seseorang dari Allah SWT.


















