Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pabrik Metanol Rp41 Triliun Dibangun di Bengalon, Kutim Bidik Operasi

Kab. Kutai Timur
3 min read
Pabrik Metanol Rp41 Triliun Dibangun di Bengalon, Kutim Bidik Operasi
Sejumlah kapal tongkang bermuatan batu bara berlayar di perairan Sungai Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Minggu (29/9/2024). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
  • Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di BCIP Bengalon, Kutai Timur, bernilai hingga Rp41 triliun, berstatus PSN, dan ditargetkan beroperasi pada 2029.
  • Pada tahap awal, BCIP ditargetkan memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Pemkab juga mengembangkan KEK Maloy dengan target investasi Rp30 triliun.
  • Kutim tetap mengembangkan perkebunan sawit untuk mendukung B50, sambil menekankan pengelolaan lingkungan dan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, kekeringan, serta karhutla.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sangatta, IDN Times - Proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur, diproyeksikan menelan investasi hingga Rp41 triliun. Proyek yang kini memasuki tahap pembangunan tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong hilirisasi sumber daya alam sekaligus meningkatkan nilai tambah batu bara.

"Proyek pengolahan batu bara menjadi metanol ini menjadi bagian dari transformasi ekonomi dan energi daerah, sebagai langkah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam," ujar Ardiansyah dilaporkan Antara di Sangatta, Jumat (30/10/2026).

  1. 1. Proyek strategis nasional di Kutai Timur

    Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman. Foto Instagram
    Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman. Foto Instagram

    Proyek yang berlokasi di Desa Sekurau, Kecamatan Bengalon, itu juga telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan kawasan industri tersebut dilaksanakan pada 31 Agustus 2026.

    Pada tahap awal, kawasan BCIP ditargetkan mampu memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun, termasuk produk sampingan, ketika mulai beroperasi pada 2029.

    Ardiansyah menilai, investasi di sektor industri pengolahan tersebut berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi Kutim, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

  2. 2. Pengembangan KEK Maloy

    DPMPTSPP Kalimantan Timur di Rencana Bisnis di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan 2020
    DPMPTSPP Kalimantan Timur di Rencana Bisnis di Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan 2020

    Selain BCIP, pemerintah daerah juga mendorong pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy sebagai kawasan pendukung hilirisasi dengan target investasi Rp30 triliun.

    Hal itu disampaikan Ardiansyah saat membuka kegiatan Kick Off Sustain Kutim Phase 2 di Sangatta, Kamis (29/10/2026). Dengan demikian, total proyeksi investasi di kedua kawasan industri tersebut mencapai Rp71 triliun.

    Menurutnya, pengembangan industri hilirisasi merupakan bagian dari visi pembangunan jangka panjang Kutim yang telah dirintis sejak 2001. Karena itu, pembangunan infrastruktur gasifikasi batu bara menjadi metanol di BCIP diharapkan berjalan lancar sesuai tahapan.

    Ardiansyah menambahkan, hilirisasi batu bara tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam, tetapi juga mendukung transformasi sektor energi nasional.

  3. 3. Pengembangan sektor perkebunan di Kutai Timur

    Harga TBS sawit di Kaltim mengalami lonjakan pada  periode 16–31 Desember 2024  kemarin. (Dok. Dinas Perkebunan Kaltim)
    Harga TBS sawit di Kaltim mengalami lonjakan pada periode 16–31 Desember 2024 kemarin. (Dok. Dinas Perkebunan Kaltim)

    Di sisi lain, pemerintah daerah tetap mengembangkan sektor perkebunan kelapa sawit yang selama ini menjadi salah satu andalan ekonomi Kutim. Pengembangan komoditas tersebut juga diarahkan untuk mendukung program bahan bakar nabati B50.

    Kutim tercatat memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekitar 500 ribu hektare dari total 1,43 juta hektare perkebunan sawit di Kalimantan Timur.

    Meski optimistis terhadap masuknya investasi dan pengembangan industri, Ardiansyah mengingatkan agar aspek lingkungan tetap menjadi perhatian. Ia meminta seluruh pihak memperketat pengelolaan lingkungan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, kekeringan lahan, dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di sekitar kawasan industri dan perkebunan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More