Potensi Besar! Kakao dan Kelapa Kaltim Dibidik Jadi Mesin Ekonomi Baru

Samarinda, IDN Times - Selain fokus pada program pencetakan sawah baru seluas 20.000 hektare, Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud juga mendorong pengembangan komoditas perkebunan unggulan, khususnya kakao dan kelapa dalam.
“Apalagi kakao dari Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia,” ujar Rudy Mas’ud dalam akun IG Pemprov Kaltim, Senin (6/4/2026).
1. Pemanfaatan lahan perhutanan sosial
Menurutnya, pengembangan kakao dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan lahan perhutanan sosial yang dikelola oleh kelompok tani dan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Ia mengungkapkan, pemerintah pusat siap memberikan dukungan, terutama dalam penyediaan bibit dan kebutuhan lainnya. Hal itu merupakan hasil pertemuannya dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di Makassar beberapa waktu lalu.
“Pusat siap membantu pengadaan bibit dan berbagai kebutuhan pendukung lainnya,” katanya.
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, Rudy meminta Dinas Perkebunan Kaltim segera berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten yang memiliki potensi pengembangan kakao.
2. Peluang masuknya investor industri pengolahan di Kaltim

Ia optimistis, peningkatan produksi kakao dalam skala besar akan membuka peluang masuknya investor untuk membangun industri pengolahan di daerah. Dampaknya tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, mulai dari sektor perkebunan hingga distribusi.
Selain kakao, Rudy juga menyoroti potensi pengembangan kelapa dalam di kawasan pesisir Kaltim, seperti di Kabupaten Berau dan Paser yang memiliki garis pantai cukup panjang.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kelapa dalam membutuhkan waktu panen yang relatif lama, yakni sekitar 6 hingga 8 tahun sejak masa tanam.
3. Pengembangan kelapa hibrida

Sebagai alternatif, ia mendorong pengembangan kelapa hibrida (genjah) yang memiliki masa panen lebih cepat, yakni sekitar 3 hingga 5 tahun.
Rudy juga mencontohkan keberhasilan Provinsi Maluku Utara dalam mengembangkan komoditas kelapa yang mampu menembus nilai ekspor hingga Rp1,2 triliun.
“Saya minta dilakukan koordinasi dengan dinas terkait di kabupaten dan kota pesisir Kaltim untuk pengembangan kelapa. Tanaman ini cocok di kawasan pesisir karena membutuhkan kandungan garam,” jelasnya.
Ke depan, Rudy berharap pengembangan kakao dan kelapa dapat menjadi fondasi sistem ekonomi berkelanjutan di Kaltim. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif, seperti minyak dan gas serta pertambangan batu bara yang bersifat tidak terbarukan.

















