Bermain Game Tak Selalu Menenangkan, Ini 5 Penyebabnya

Bermain game kerap dipilih sebagai cara melepas stres dan mencari hiburan. Namun, tidak sedikit orang justru merasa kesal, mudah marah, atau lebih emosional setelah bermain. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, mengapa aktivitas yang seharusnya menyenangkan justru memicu temperamen?
Secara psikologis, reaksi emosional saat bermain game tidak hanya dipengaruhi oleh permainannya, tetapi juga oleh cara otak merespons tekanan, tantangan, dan rangsangan yang berlebihan. Tanpa disadari, pengalaman bermain dapat menggeser emosi dari relaksasi menjadi frustrasi.
Berikut lima alasan psikologis mengapa bermain game bisa membuat seseorang menjadi lebih temperamental.
1. Stimulasi emosi yang terlalu intens

Banyak game dirancang dengan tempo cepat, suara keras, visual kontras, dan tantangan beruntun. Kondisi ini membuat sistem saraf berada dalam keadaan siaga tinggi dalam waktu lama.
Secara psikologis, saat otak terus berada pada mode waspada, kemampuan mengontrol emosi menurun sehingga pemain lebih mudah tersulut oleh hal-hal kecil.
2. Tekanan untuk menang dan takut kalah

Game kompetitif menciptakan dorongan kuat untuk meraih kemenangan. Kekalahan sering kali terasa sebagai kegagalan pribadi, terlebih jika melibatkan peringkat, skor, atau penilaian dari pemain lain.
Ketika hasil tidak sesuai harapan, frustrasi meningkat dan emosi negatif seperti marah serta kecewa muncul lebih intens.
3. Kehilangan kontrol emosi karena kelelahan mental

Bermain game dalam durasi panjang menguras energi kognitif. Otak terus mengambil keputusan cepat, bereaksi terhadap ancaman, dan memproses informasi kompleks.
Saat kelelahan mental terjadi, kemampuan regulasi emosi melemah, membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.
4. Pengaruh interaksi sosial yang negatif

Game online sering melibatkan komunikasi dengan pemain lain. Namun, tidak semua interaksi berlangsung sehat. Kritik keras, ejekan, hingga perilaku toxic dapat memicu emosi.
Secara psikologis, serangan verbal di dunia virtual tetap diproses otak sebagai ancaman sosial, sehingga memicu rasa marah dan sikap defensif.
5. Sulit berhenti dan efek penurunan dopamin

Game merangsang pelepasan dopamin yang memicu rasa senang dan tertantang. Namun, saat permainan berhenti, kadar dopamin dapat turun secara tiba-tiba.
Penurunan ini membuat pemain merasa gelisah, mudah marah, dan kurang sabar karena otak masih “mengharapkan” stimulasi lanjutan.
Bermain game pada dasarnya tidak salah. Namun, durasi, jenis permainan, dan cara bermain sangat memengaruhi kondisi emosi. Temperamen yang muncul kerap menjadi sinyal kelelahan mental dan emosional. Dengan mengatur waktu bermain, memilih game yang sesuai, serta memberi jeda istirahat, game dapat kembali menjadi sarana hiburan yang sehat, bukan sumber kemarahan.
Itulah lima alasan mengapa bermain game bisa membuat seseorang menjadi lebih temperamental.


















