Sering Dipercaya, Ternyata Keliru! Mitos Kesehatan yang Masih Beredar

Berbagai mitos kesehatan masih dipercaya sebagian masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Padahal, tidak sedikit anggapan tersebut belum terbukti secara ilmiah dan justru menimbulkan kesalahpahaman terkait penyebab penyakit atau kebiasaan tertentu.
Karena itu, penting meluruskan sejumlah mitos kesehatan dengan fakta medis agar masyarakat tidak terjebak informasi keliru.
1. Sering makan telur bisa menyebabkan bisulan

Telur dikenal sebagai sumber protein tinggi yang mudah diperoleh dan diolah. Dalam 100 gram telur mentah terkandung sekitar 12,5 gram protein, serta berbagai zat gizi lain seperti vitamin A, D, B12, lemak, dan asam amino esensial.
Namun, beredar anggapan bahwa terlalu sering mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisul. Faktanya, anggapan tersebut keliru. Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang menyerang folikel rambut, terutama saat daya tahan tubuh melemah.
Konsumsi telur tidak berhubungan dengan munculnya bisul, kecuali pada individu yang memiliki alergi telur. Meski demikian, konsumsi tetap perlu dibatasi. USDA merekomendasikan konsumsi telur maksimal 14 butir per minggu atau sekitar dua butir per hari.
2. Mengonsumsi mi instan dapat meningkatkan risiko kanker

Mi instan populer karena praktis dan terjangkau. Namun, banyak yang meyakini konsumsi mi instan dapat meningkatkan risiko kanker perut.
Anggapan tersebut tidak benar. Mi instan mengandung MSG dan kadar garam cukup tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Meski dapat menimbulkan gangguan pencernaan, terutama bagi penderita maag, mi instan tidak terbukti menyebabkan kanker perut. Namun, konsumsinya tetap disarankan dibatasi satu hingga dua bungkus per minggu.
3. Mandi malam dapat menyebabkan rematik

Mandi malam kerap dikaitkan dengan risiko rematik. Padahal, rematik atau rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada sendi, bukan akibat kebiasaan mandi malam.
Hingga kini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa mandi malam dapat menyebabkan rematik. Hal ini juga ditegaskan oleh dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, sebagaimana dikutip dari Kominfo.go.id.
Meski demikian, penderita rematik memang dianjurkan menghindari paparan suhu dingin berlebihan karena dapat memicu rasa nyeri pada sendi.
4. Makanan pedas memicu penyakit maag

Makanan pedas digemari banyak orang. Sensasi pedas berasal dari zat capsaicin yang sebenarnya memiliki manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam batas wajar.
Namun, konsumsi makanan pedas berlebihan dapat memicu iritasi lambung dan meningkatkan produksi asam lambung, sehingga menimbulkan keluhan maag seperti perut perih, mual, dan kembung. Meski demikian, tidak semua orang sensitif terhadap makanan pedas.
5. Sariawan karena kurang vitamin C

Sariawan sering dikaitkan dengan kekurangan vitamin C. Padahal, menurut Dr. drg. Harum Sasanti Yudoyono, Sp.PM., spesialis penyakit mulut FKGUI–RSCM, defisiensi vitamin C bukan penyebab langsung sariawan.
Sariawan dapat dipicu berbagai faktor, seperti stres, kelelahan, trauma pada mulut, perubahan hormonal, anemia, alergi, gangguan imun, faktor genetik, hingga gangguan pencernaan.


















