Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Trik Psikologi Menerima Luka Emosional, Bantu Ringankan Beban Batin

Seorang perempuan dewasa sedang berpose menghadap kamera.
Ilustrasi Tanda Kamu Sudah Memiliki Mental yang Dewasa. (pexels.com/Alexander Mass)

Luka emosional kerap tak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya bisa jauh lebih dalam dibandingkan luka fisik. Pengkhianatan, kehilangan, penolakan, hingga kegagalan sering meninggalkan bekas dalam pikiran dan perasaan yang sulit diungkapkan. Banyak orang memilih berpura-pura kuat dengan mengabaikan rasa sakit, padahal secara psikologis, luka yang tidak diakui justru dapat bertahan lebih lama.

Menerima luka emosional bukan berarti membenarkan hal menyakitkan yang terjadi, melainkan mengakui bahwa rasa sakit itu nyata dan layak diperhatikan. Dengan pendekatan psikologis yang tepat, proses penerimaan ini dapat membantu mengurangi beban batin secara bertahap, bahkan dalam rentang waktu sekitar satu bulan.

Berikut sejumlah trik psikologi yang dapat membantu seseorang mulai menerima luka emosional dan merasakan dampak positifnya dalam kehidupan sehari-hari.

1. Mengakui rasa sakit tanpa menyalahkan diri

Seorang wanita sedang tersenyum.
Ilustrasi Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Orang dengan Gangguan Bipolar? (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Langkah pertama dalam menerima luka emosional adalah mengakui bahwa diri sendiri memang sedang terluka. Banyak orang menekan perasaan dengan menganggap dirinya terlalu sensitif atau berlebihan, sehingga emosi justru terpendam.

Secara psikologis, pengakuan terhadap rasa sakit menjadi kunci penting agar emosi dapat diproses dengan sehat. Ketika luka diakui tanpa menyalahkan diri, otak mulai memahami pengalaman tersebut secara lebih realistis.

2. Memberi nama pada emosi yang dirasakan

Wanita tidur di atas rumput.
Ilustrasi Cara Mengelola Rasa Iri agar Tidak Merusak Harga Dirimu. (pexels.com/Tuấn Kiệt Jr)

Luka emosional juga kerap terasa membingungkan karena emosi yang muncul bercampur aduk. Kebingungan ini, jika dibiarkan, justru memperberat beban batin.

Memberi nama pada emosi—seperti sedih, marah, kecewa, atau takut—membantu otak mengorganisasi pengalaman emosional. Dalam kurun waktu sebulan, kebiasaan ini dapat membuat perasaan terasa lebih terkendali dan tidak terlalu menekan.

3. Berhenti memaksakan diri untuk cepat pulih

Seorang wanita sedang senyum.
Ilustrasi Tips Membangun Kepercayaan Diri Kamu setelah Dikhianati. (pexels.com/Eyüpcan Timur)

Tekanan untuk segera “baik-baik saja” sering datang dari lingkungan maupun dari diri sendiri. Padahal, setiap luka memiliki ritme penyembuhan yang berbeda.

Dari sudut pandang psikologi, memaksa diri untuk pulih terlalu cepat justru bisa memperpanjang proses penyembuhan. Dengan memberi waktu dan ruang, emosi memiliki kesempatan untuk bergerak dan mereda secara alami.

4. Mengubah narasi batin tentang luka

Wanita sedang menulis.
Ilustrasi Tips Membuat Resolusi Tahun Baru untuk Kepribadian Ambivert. (pexels.com/MART PRODUCTION)

Cara seseorang memaknai luka emosional sangat memengaruhi dampaknya. Jika luka terus dipandang sebagai tanda kelemahan, rasa sakit cenderung semakin menguat.

Mengubah narasi batin menjadi lebih penuh empati dapat mengurangi tekanan internal. Dalam 30 hari, sudut pandang yang lebih sehat ini membantu luka terasa lebih ringan dan tidak lagi mendefinisikan diri secara keseluruhan.

5. Menjaga hubungan aman secara emosional

Wanita sedang membaca buku.
Ilustrasi Buku Psikologi yang Wajib Kamu Baca Sekali Seumur Hidup. (pexels.com/Kevin Malik)

Menerima luka emosional juga tidak harus dilakukan sendirian. Kehadiran orang yang aman secara emosional—baik keluarga, sahabat, maupun tenaga profesional—dapat membuat proses penyembuhan berjalan lebih stabil.

Secara psikologis, hubungan yang suportif memberikan rasa diterima dan dipahami. Dalam waktu sebulan, interaksi yang aman ini mampu mengurangi rasa terisolasi dan mempercepat pemulihan batin.

6. Melatih kebaikan pada diri sendiri

Wanita sedang berada di tepi danau.
Ilustrasi Tips Menjalani Hidup di Tahun yang Baru tanpa Membebani Diri. (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Ironisnya, saat terluka, banyak orang justru bersikap paling keras pada dirinya sendiri. Kritik diri yang berlebihan dapat memperparah luka emosional yang ada.

Melatih self-compassion atau welas asih pada diri sendiri membantu menciptakan rasa aman dari dalam. Dalam kurun waktu satu bulan, sikap ini perlahan memperkuat ketahanan mental dan membuat luka emosional lebih mudah diterima.

Menerima luka emosional merupakan proses yang membutuhkan keberanian dan kesabaran. Sejumlah trik psikologi ini menunjukkan bahwa perubahan kecil namun konsisten dapat membawa dampak nyata bagi kesehatan mental. Ketika seseorang berhenti melawan rasa sakit dan mulai menerimanya dengan kesadaran, luka tidak lagi menjadi beban yang menghancurkan, melainkan bagian dari perjalanan menuju kedewasaan emosional.

Itulah sejumlah trik psikologi untuk menerima luka emosional dan mengurangi beban batin secara perlahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest Life Kalimantan Timur

See More

Trik Psikologi Menerima Luka Emosional, Bantu Ringankan Beban Batin

28 Jan 2026, 13:00 WIBLife