Debat kandidat kepala daerah Samarinda di Hotel Aston pada Rabu malam, 2 Desember 2020 (Dok.IDN Times/istimewa)
Beragam segmen menjadi tema pada malam itu. Mulai dari pemerintahan, hukum, lingkungan dan persoalan korupsi. Paling menarik perhatian tentu soal lubang bekas tambang batu baru. Merujuk data Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim sejak 2011, korban meninggal dunia di lubang bekas tambang batu bara terus bertambah. Di Samarinda paling banyak menelan korban, yakni 22 orang. Sementara, di Kutai Kartanegara (Kukar) 13 orang. Sisanya, masing-masing satu orang dari Kutai Barat dan Penajam Paser Utara.
Dari semua kejadian itu, korban laki-laki berjumlah 26 orang. Sementara perempuan sembilan orang, dan satu lainnya tak berhasil teridentifikasi. Sebenarnya pada 22 Agustus 2019, kejadian serupa juga terjadi di Desa Beringin Agung, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun lokasi petaka digaransi Dinas ESDM Kaltim bukan lubang bekas tambang. Teranyar pada 6 September 2020 di Paser. Dua remaja laki-laki jadi korban. Juga diduga lubang bekas tambang.
Dengan demikian, dari catatan Jatam Kaltim sudah 39 orang kehilangan nyawa akibat bekas lubang tambang di Benua Etam. Masalah lingkungan ini menjadi momok Kota Tepian selain banjir. Pasalnya hingga kini persoalan tersebut tak punya akhir yang jelas. Keluarga yang ditinggalkan korban pun gamang, entah harus mengadu ke mana. Mengenai pertanyaan yang diajukan moderator ini, para paslon punya ragam jawaban. Dimulai dari kandidat Andi Harun-Rusmadi. Pihaknya menyebut bakal berusaha semaksimal mungkin berkomunikasi dengan pihak keamanan, terkait penyidikan kasus hilangnya puluhan nyawa di lubang bekas tambang di Samarinda.
“Adakah kemungkinan para pelaku, pihak yang bertanggung jawab secara pidana mau pun non pidana atas peristiwa meninggalnya warga di lubang (bekas) tambang,” jawab Andi Harun.