Asrul Cerita Momen Relawan Selamatkan Bayi dari Kepungan Asap Karhutla

- Relawan PMI Kalbar merespons laporan rumah yang dikepung api di Parit Demang Ujung, Pontianak, dengan memadamkan kebakaran selama sekitar dua jam demi melindungi warga yang terpapar asap.
- Selama lebih dari 70 hari, PMI dan tim gabungan menangani karhutla di sejumlah wilayah Kalbar; Ketapang masih memiliki sekitar 400 titik perhatian, sementara Kayong Utara sekitar 13 titik.
- Operasi menghadapi tantangan jarak titik api, kelelahan serta cedera relawan, kebutuhan logistik, dan dampak kebakaran terhadap satwa yang terlihat panik di Taman Nasional Gunung Palung.
Pontianak, IDN Times - Lebih dari 70 hari, relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kalimantan Barat (Kalbar) berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Bukan hanya berhadapan dengan api dan asap, para relawan juga harus memastikan kebutuhan logistik hingga kesehatan mereka tetap terjaga.
Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kalbar, Asrul Putra Nanda, mengatakan selama puluhan hari bertugas, ada sejumlah peristiwa yang membekas. Salah satunya ketika tim menerima laporan dari seorang warga yang meminta bantuan karena rumahnya dikepung kebakaran, sementara di dalam rumah terdapat bayi.
“Bang, kami punya bayi. Di belakang dapur atau belakang lahan rumah kami terbakar. Kami tidak tahu harus ke mana,” kata Asrul menirukan pesan warga yang diterima tim, Kamis (1/10/2026).
1. Ada bayi, balita, hingga lansia yang harus diungsikan

Pemadaman lahan karhutla. (IDN Times/istimewa). Laporan tersebut diterima pada malam hari. Sekitar pukul 23.00 WIB, tim langsung bergerak menuju lokasi di kawasan Parit Demang Ujung, Pontianak.
Setibanya di lokasi, tim mendapati warga sudah terpapar asap, sementara api terlihat cukup besar dan berada di sekitar rumah.
“Kita kemudian mencoba melakukan pemadaman. Di situ saya merasa bahwa bukan hanya lahan terbakar yang harus kita pikirkan. Ada bayi, balita, dan anak-anak yang terpapar asap akibat kebakaran lahan,” ujar Asrul.
Menurutnya, situasi saat itu menjadi tantangan tersendiri karena warga juga tidak memiliki banyak pilihan untuk mengungsi. Hampir seluruh wilayah terdampak kabut asap dan kualitas udara berada dalam kondisi berbahaya.
“Kita hanya bisa memastikan api yang berada di samping maupun di belakang rumah mereka bisa kita padamkan,” katanya.
Pemadaman malam itu berlangsung sekitar dua jam, mulai pukul 23.00 WIB hingga pukul 01.00 WIB.
2. Relawan hadir merespons laporan masyarakat

Petugas padamkan api karhutla. (IDN Times/istimewa). Peristiwa tersebut, kata Asrul, semakin menguatkan keyakinan tim bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata soal memadamkan titik api. Kehadiran relawan juga dibutuhkan untuk merespons masyarakat yang berada dalam situasi darurat.
“Itu yang membuat kami merasa bahwa kita harus hadir lebih banyak lagi. Kita harus hadir dengan lebih banyak personel agar bisa merespons laporan-laporan dari masyarakat,” tuturnya.
Selama lebih dari 70 hari penanganan karhutla, relawan PMI dan tim gabungan bergerak di sejumlah wilayah, di antaranya Kota Pontianak, Kubu Raya, Ketapang, dan Kayong Utara.
Asrul mengatakan saat ini relawan di Pontianak dan Kubu Raya diistirahatkan. Sementara tim di Ketapang dan Kayong Utara masih bergerak melakukan pemadaman dan pemantauan.
Di Ketapang, masih terdapat sekitar 400 titik yang menjadi perhatian tim, sedangkan di Kayong Utara terdapat sekitar 13 titik. Posko relawan tetap dipertahankan untuk memastikan kebutuhan tim di lapangan dapat terpenuhi.
“Suplai oksigen portabel, makanan, vitamin, dan kebutuhan lainnya tetap kita kirimkan ke sana,” ujarnya.
Asrul menuturkan, menjaga kondisi relawan menjadi salah satu perhatian utama selama operasi berlangsung. Sebab, tidak sedikit relawan yang mengalami kelelahan hingga cedera saat menjalankan tugas.
“Tadi ada cerita beberapa relawan yang pingsan, ada yang mengalami luka, dan lainnya. Kita juga menyiapkan ambulans,” katanya.
3. Pernah gunakan selang sepanjang 40 meter untuk jangkau api

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Provinsi Kalimantan Barat, Asrul Putra Nanda. (IDN Times/istimewa). Selain pemadaman, tim juga berupaya memenuhi kebutuhan dasar relawan yang bertugas berhari-hari di lapangan.
“Saya bersama tim memikirkan bagaimana caranya mereka yang sebelumnya hanya makan mi instan bisa mendapatkan makanan lainnya, vitamin, buah-buahan, dan kebutuhan lainnya,” ujar Asrul.
Bagi Asrul, tantangan pemadaman karhutla juga tidak berhenti pada jauhnya lokasi titik api. Di sejumlah lokasi, relawan harus membawa peralatan dan selang ratusan meter untuk mencapai sumber api.
“Kalau jarak titik api dari akses terdekat, yang paling jauh pernah kita padamkan kurang lebih 400 hingga 500 meter,” ungkapnya.
Dengan panjang satu selang sekitar 20 meter, tim harus menggunakan sekitar 30 hingga 40 selang untuk menjangkau lokasi tersebut.
“Persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api. Kami harus membawa selang, kemudian menghamparkan selang hingga mencapai titik api. Setelah api padam, teman-teman yang sudah letih masih harus menggulung seluruh selang dan membawanya kembali. Itu yang luar biasa bagi kami,” katanya.
Dalam menjalankan tugas, Asrul mengatakan tim tidak membedakan lokasi berdasarkan status lahannya. Fokus mereka adalah menangani kebakaran dan memastikan keselamatan masyarakat terdampak.
4. Menyaksikan sendiri suasana saat satwa panik habitatnya terbakar

Orangutan ditranslokasi ke TN Gunung Palung. (IDN Times/istimewa). Salah satu lokasi yang pernah didatanginya secara langsung adalah kawasan Taman Nasional Gunung Palung, tepatnya sektor dua.
Di kawasan tersebut, Asrul menyaksikan sendiri luasnya lahan yang terbakar. Kondisi itu juga membuatnya memikirkan nasib satwa yang berada di kawasan konservasi tersebut.
“Saya kemudian berpikir bagaimana kondisi satwa yang ada di sana, seperti orang utan, bekantan, monyet, dan satwa lainnya,” ujarnya.
Asrul mengaku melihat satwa-satwa di kawasan tersebut dalam kondisi panik ketika menghadapi kebakaran.
“Saya menyaksikan sendiri dan menemukan bahwa satwa-satwa tersebut terlihat seperti panik menghadapi kondisi kebakaran saat itu,” katanya.
Lebih dari 70 hari berada di tengah situasi karhutla membuat Asrul melihat bahwa persoalan kebakaran lahan bukan sekadar angka titik api.
Di balik setiap laporan, terdapat warga yang membutuhkan pertolongan, relawan yang mempertaruhkan tenaga, serta lingkungan dan satwa yang ikut terdampak.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















