Balikpapan Inflasi, PPU Justru Deflasi: Ini Komoditas Penyebabnya

Samarinda, IDN Times - Kota Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Kenaikan harga tiket pesawat, solar, dan pelumas kendaraan menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di kota tersebut.
Sebaliknya, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) seiring meningkatnya pasokan sejumlah komoditas pangan di pasaran.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kenaikan harga tiket pesawat dipengaruhi penambahan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar oleh maskapai penerbangan yang mulai berlaku pada 13 Mei 2026.
“Kenaikan harga tiket terjadi di tengah tingginya permintaan selama dua periode libur panjang pada Mei,” ujar Robi dilaporkan Antara.
1. Harga solar dan pelumas naik
Selain itu, harga solar dan pelumas juga mengalami kenaikan mengikuti tren harga minyak dunia. Menurutnya, kelompok energi menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi Balikpapan sepanjang Mei.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,75 persen, sedangkan PPU mencapai 2,33 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,08 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang mencapai 3,04 persen.
BI Balikpapan mencatat lima komoditas penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan pada Mei 2026, yakni tiket pesawat, pelumas kendaraan, roti manis, beras, dan solar.
Kenaikan harga roti manis dan beras dipicu meningkatnya biaya kemasan dan distribusi. Khusus beras premium, keterbatasan pasokan turut mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
2. Beberaa komoditas alami penurunan dan menahan inflasi

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi. Komoditas tersebut antara lain bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.
Penurunan harga dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelaksanaan operasi pasar, meningkatnya pasokan lokal, hingga melemahnya harga emas di pasar global.
Sementara itu, deflasi di PPU terutama didorong turunnya harga daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat. Melimpahnya hasil tangkapan nelayan serta masuknya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi membuat harga komoditas tersebut lebih terkendali.
Meski demikian, sejumlah komoditas masih memberikan tekanan inflasi di PPU, yakni beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin. Kenaikan harga dipengaruhi bertambahnya biaya logistik dan kemasan, serta penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
3. Potensi yang mendorong terjadinya inflasi

Ke depan, BI Balikpapan mengingatkan adanya sejumlah risiko yang berpotensi mendorong inflasi. Musim kemarau yang diperkirakan mulai berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 di Kalimantan Timur dan Jawa berpotensi menekan produksi pangan.
Selain itu, peningkatan aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) pada semester II 2026 diperkirakan akan meningkatkan permintaan berbagai komoditas pangan di wilayah Kalimantan Timur.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan, PPU, dan Paser telah menggelar berbagai program pengendalian inflasi sepanjang Mei 2026, mulai dari gerakan pangan murah, pasar murah, hingga operasi pasar.
Khusus di Balikpapan, operasi pasar bahan bakar rumah tangga juga dilaksanakan di seluruh kecamatan pada 18–22 Mei 2026 guna memastikan pasokan tetap tersedia dan harga tetap terkendali.


















